Friday, October 5, 2018

Cerpen Sendiri



CATATAN KESENDIRIAN
Widya Tri Mauliyana (Pena “Aydiw”)
Kesetiaan tak bisa diukur dari seberapa lama menjalin hubungan. Ketika beda sekolah menjadi suatu tantangan yang sangat menyiksa perasaan. Terlebih lagi ketika pasangan telah berubah tak seperti dulu awal percintaan dimulai. Kebohongan terkadang dianggap sepele selalu menjadi akhir dari sebuah kepercayaan.
Seperti awalnya aku bersama dia yang bernama Eza. Aku bernama Cennik, tapi biasa dipanggil Cece. Ketika aku duduk dibangku Sekolah Menengah Kejuruan sedangkan Eza bersekolah di Sekolah Menengah Atas. Pikirku, meskipun berbeda sekolah hubungan asmara bersama Eza tetap sama seperti dulu. Tapi suasananya yang berbeda, lingkungannya pun juga berbeda. Aku tak bisa lagi melihatnya ataupun mengawasinya. Meskipun sama seperti sebelumnya, hubungan kami yang hanya sebatas sms saja, tanpa telepon, dan tanpa bertemu. Namun semakin hari obrolan kami semakin jarang. Topik obrolan juga semakin membosankan. Entah dia sibuk atau lagi banyak tugas, aku tak tahu tentang kabarnya. Seperti tak ada niat lagi untuk memberiku kabar. Bahkan aku sedih, karna aku tak bisa lagi melihatnya kabar dirinya dengan mata ku lagi. Tapi waktu berkata lain, dia mulai berubah seperti power ranger. Hanya saja dia tak berubah konstum, sikap dan perlakuannya terhadapku seperti layaknya orang tak mengenali.
Setiap hari tingkah lakunya membuat aku bingung. Bahkan hampir tidak pernah menghubungi seharian untuk sekilas menanyakan kabar. Tapi masih saja aku biarkan, mungkin hanya menyesuaikan keadaan dengan sekolah baru banyak tugas, pikirku saat itu. Lama kelamaan dia ketahuan selingkuh, hanya saja aku diam, aku ingin dia jujur sebagai laki – laki yang bertanggung jawab.
Waktu yang ditunggu – tunggu tak kunjung dia berkata jujur. Tiba – tiba dia memutuskan aku karena alasan untuk ingin sendiri. Dia pikir aku percaya dengan omongannya. Tidak!!! Alasan yang sangat klasik tak masuk akal. Padahal aku sudah mengetahui ia berselingkuh dengan adik kelasnya. Tidak sengaja aku buka FB bukan semata – mata untuk mencari kebenaran, saat aku melihat dinding FB ku muncul dia berstatus berpacaran mulai 1 bulan yang lalu.
Tidak bisa dibayangkan, bagaimana histerisnya aku saat cinta yang telah dibangun lama dengan tanganku dan dia hilang begitu saja. Tiga tahun delapan bulan, sekian kisah kita lalui bersama, mungkin kalau diceritakan akan jadi novel yang sangat tebal. Tapi sayangnya, tak sempat ku lukis hitam diatas putih indahnya rasa kebersamaan yang pernah terjadi.
Bulan demi bulan terlampaui, rasa sendiri yang terus menyelimuti benak otakku. Aku masih belum yakin, aku sendiri tanpa dia. Sore itu, aku sendiri bersama motor blue matic kesayangan mengunjungi sebuah perpustakaan di kota ku, aku teringat waktu kebersamaan dengannya kala itu. Ya, perpustakaan daerah yang selalu menjadi tempat aku bersamanya menghabiskan waktu sepulang sekolah. Saat aku menoleh sekitar perpustakaan, mungkin dia ada  disini juga. Ternyata di seluk beluknya ruangan perpustakaan tak terlihat sedikitpun batang hidungnya.
Dulu sebelum ada kata putus, perpustakaan daerah tempat aku bersama eza mengukir indahnya belajar bersama, sambil menuju meja yang sering menjadi pilihan duduk dibawah lampu pijar yang terang. Ketika aku mengambil salah satu buku ekonomi, ku buka ternyata ada bukti peminjaman yang bertulis namanya. Aku semakin baper membaca namanya, sampai aku dibawa gagal fokus terus mengingatnya. Dengan spontan meletakkan buku itu kembali di raknya, lalu berjalan ke arah pintu keluar dari tempat horor saat itu. Mungkin karena ada nama dia dibuku tersebut, perpustakaan serasa menakutkan bagiku. Kala itu juga motor blue matic langsung membawaku pergi ke tempat persinggahan, yaitu kamar.
Dikamar aku masih terus mengingat namanya jelas terekam oleh otakku. Andai saja aku bisa memformat isi otak ku atau ganti yang baru, pasti akan ku beli saat itu juga ditoko. Ucap hatiku. Pikiran ku semakin konyol mengingatnya, bahkan nafsu makan pun menurun saat aku masih mengingatnya. Sampai aku bingung apa yang harus aku lakukan untuk melupakannya.
Malamnya ibuku mengajakku pergi ke pengajian majelis talim di sekitar kompleks rumah. Tanpa banyak drama, dengan sigap aku langsung berganti pakaian yang lebih sopan. Entah kemasukan apa diriku yang mau datang ke pengajian majelis talim kala itu. Lalu kami berjalan kaki langkah demi langkah menelusuri jalan dikompleks. Tiba disana, rupanya aku bertemu teman sekolah madrasah dia bernama Dina. Kami pun duduk bersebelahan sekaligus bercengkrama sebelum pengajian dimulai. Sepuluh menit kemudian, pengajian akan segera dimulai. Akupun mulai merapikan duduk agar santai menikmati materi yang diberikan. Berbagai materi telah disampaikan, ya tentang kenalakan remaja. Pantas saja ibuku selalu mengajakku untuk ke pengajian, ternyata selalu ada bahasan menarik untuk ku pahami dalam kehidupan sehari - hari. Dipengajian itu dibahas hukum dan larangan dalam pacaran. Tercengang mataku saat bu ustadzah berceramah, lantas apa yang telah aku lakukan selama itu. Tak bisa ku bendung lagi bulir – bulir air mata jatuh tanpa disuruh. Aku sangat malu terhadap diriku sendiri. Tapi aku bersyukur telah tak bersamanya lagi.
Alhamdulillah, saat pengajian selesai aku berjanji pada diriku sendiri untuk selalu menjauhi larangannya. Pengajian ta’lim sangat menghipnotis diriku untuk menjadi diri yang lebih baik menuju sangat baik. Sepulang pengajian kami saling bersalaman sesama jamaah. Kamipun kembali kerumah dengan suasana hatiku yang lebih nyaman dari sebelumnya.
***
Keesokannya, aku disekolah semakin rajin menjelang Ujian Akhir, tak terasa kurang lebih 3 tahun aku menggali ilmu disekolah menengah kejuruan akan segera berakhir, tapi keduluan hubunganku dengan dirinya yang berakhir daripada lulus. *eh baper. Ku hiraukan masalah yang menimpaku saat itu. Aku tetap teringat yang diucapkan oleh ustadzah saat pengajian , “Orang baik akan berjodoh dengan yang baik pula, jadi tak perlu kita pacaran, itu hanya menambah dosa”. Perkataan itu selalu memotivasiku untuk selalu giat belajar demi mencapai mimpiku tanpa harus sibuk mencari penggantinya, menurutku itu tidak berfaedah. Jodoh akan datang diwaktu yang tepat pula, bisik hatiku.
Disela – sela masalah menghujam hatiku, kegiatan bimbel dan belajar kelompok bersama teman – teman semakin padat. Kupaksakan otakku untuk fokus ujian dan tak mengingatnya lagi. Tak dipungkiri rintangan yang ku lalui untuk melupakannya berliku seperti jalan, masih ada saja gosip yang menyeretku untuk flasback mengingatnya.
“Ce, si Eza lagi bikin video lucu bareng adik sayangnya di vlognya”, lelucon Sasya.
“Auh ah, aku tak peduli lagi”, cetusku sambil pergi ke toilet.
Kenapa saat aku mendengar namanya hati seperti ditusuk pisau? Mungkin aku belum bisa melupakannya. Diam sejenak merenungkan kejadian saat itu didepan cermin. “Hey, tanpa Eza hidup kamu juga sangat berarti. Buat apa kamu mengingatnya kembali?” ucap kata hatiku saat itu.
Aku sadar, dibawah alam sadar aku teramat menyukai lelaki itu. Dan itu salah satu kebodohan bagiku. Dia bukan suamiku dan belum tentu juga jadi suamiku, jadi buat apa aku harus menyukainya teramat dalam? Bahkan dia meninggalkan aku dengan tidak sopan.
            Akhirnya sepulang sekolah, aku bergegas kekamar dan tak lupa mengambil kardus besar. Dengan cekatan aku membuka lemari, semua barang pemberiannya aku masukan kedalam kardus besar itu. Lalu aku buang di tempat sampah tepat depan rumah yang kebetulan petugas sampah yang setiap sore mengambil tumpukan sampah dikompleks rumahku.
“Kamu adalah sampah yang harus aku buang pada tempatnya. Terima kasih atas cerita yang pernah kau berikan untuk mengisi masa lalu ku saat kemarin” kata hatiku sambil melihat petugas sampah membawa kenangan itu. Dan setelah itu, aku yakinkan tidak pacaran lagi.
Sebagai seorang siswi aku masih ingat akan kewajiban, belajar dan terus belajar mengejar impian. Yaahh, jadwal ujian mulai menungguku untuk berperang melawan akhir dari masa sekolah putih abu - abu, demi selembar kertas yang bertulisan “Lulus”, itu yang akan ku raih saat ini, bukan hal dia yang meninggalkan tanpa pamit.
            Hari demi hari terlalui, ujian semakin dekat tapi aku dan dia makin jauh. Ups baper lagii... Disamping sibuk belajar aku bersama seorang teman dekat ku bernama Adzkia, tak lupa refresing untuk menghilangkan kejenuhan yang akan menghadapi ujian. Kita sering menghabiskan banyak waktu untuk kuliner. Kata Adzkia, banyak makan salah satu tips menghilangkan rasa sakit hati. Emang dia teman yang paling baik yang pernah dikehidupanku. Terkadang kami lupa waktu untuk pulang kerumah, karena sibuk cari makanan yang paling enak. Paling sering aku dimarahi karena lupa untuk pulang. Dari sekian semangatnya untuk move on, berbagai cara yang diberikan Adzkia aku ikuti semua.
***     
Waktu yang ditunggu telah menjemputku untuk pergi kesekolah, yaitu ujian nasional. Tepat pukul 6 pagi aku telah berada disekolah yang siap mengikuti ujian. Tettt, pertanda ujian akan segera dimulai. Didalam ruangan aku berdoa dan selalu memikirkan wajah kedua orang tuaku. Selama 2 jam aku didalam ruangan ber- AC, padahal ruangan dingin sekali tapi aku merasa masih panas. Mungkin karena efek berfikir mengerjakan soal – soal ujian yang sangat banyak. Selama empat hari aku ujian nasional, kegiatanku hanya penuh latihan soal dan belajar. Waktu mengatakan, sekarang aku bebas dari berbagai ujian dan menunggu tiba waktunya pengumuman kelulusan.
Berbeda dengan yang lain sibuk merencanakan liburan, aku hanya terpaku menjadi pendengar setia dari celotehan temanku. Dikantin sekolah, aku masih saja memikirkannya betapa bodoh diri ini. “Ce, lu kenapa sih masih melamun terus, ujian dah kelar nih. Gimana kita liburan bareng aja ke pantai atau ke danau?” kata Alyn sembari meminum es. Tanpa menjawab persetujuanku. Mereka memutuskan, akhir pekan ini kita ke danau aja. Aku hanya tersenyum pertanda setuju dengan ide mereka. Tettt..tettt.. bel berbunyi pertanda ujian telah berakhir untuk kelas 12 boleh pulang. Akhirnya kami pulang bersama dengan angkutan umum dan kembali kerumah masing – masing.
Disaat keterpurukan, kamar menjadi tempat yang sangat nyaman bagiku. Merebahkan diri diatas kasur sekilas memanjakan hati yang lelah ditinggalkannya tanpa memberiku rambu untuk pergi tak kembali. Aku mulai membiasakan diri menikmati rasa sakit di dada. Sedikitpun aku tak membencinya, karna membenci akan membuatku sulit melupakannya.
Sembari menunggu pengumuman, aku tak mau waktuku terbuang tanpa menghasilkan sesuatu. Aku orangnya tak bisa saja berdiam diri dirumah. Ketika ada lowongan kerja, langsung saja aku melamarkan diri. Mungkin dengan aku bekerja, aku bisa mengusir kesepian yang ada dalam hatiku saat ini. Aku juga tak mau terus melamunkan dia yang telah pergi.
Bekerja, alasan yang tepat untuk berhenti memikirkannya. Suatu perusahaan milik negara, menerima ku sebagai account officer. Alhamdulillah,  ucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa aku diterima bekerja sekaligus ditempatkan di kota kelahiran. Aku sangat menikmati pekerjaan itu, sampai aku tak pernah merasakan kesepian dari status jomlo yang ku alami kala itu. Disana juga banyak hal baru yang aku dapatkan dari rekan kerja. Dimulai dari pengalaman berpacaran, masakan, tempat wisata, serta kebudayaan yang berbeda dari gaya bicara aku dapatkan semuanya dari mereka. Aku sangat senang sekali, mendapatkan kehidupan baru dari mereka. Senyumku mulai mengembang saat aku terbebas dari masa lalu yang merupakan penyakit ketika itu.
Dan sekarang dengan rekan kerja baru, mereka memberiku banyak cerita yang sangat menarik aku geluti, ya dunia kerja. Aku telah menginjak tahap wanita dewasa, harus menjadi wanita karir yang cemerlang dan sukses. Itu impian saat itu, mungkin tak semudah aku dapatkan. Banyak rintangan yang aku alami saat bekerja. Semua itu aku pasrahkan kepada Tuhan sang pencipta. Tiap bulan, aku selalu memenuhi target yang diminta. Aku bisa dikatakan staf yang baik kala itu. hehe..
Tiba waktu pengumuman kelulusan, mengatakan bahwa aku lulus dengan nilai cukup baik, menurutku. Aku juga merasa sedih ketika itu juga orang tua ku menyuruh berhenti bekerja. Perasaan sangat sedih dan berat aku harus meninggalkan rekan – rekan kerja ku yang telah membantu mengusir rasa kesepianku ketika itu. Pendidikan memang sangat penting bagiku, sehingga aku putuskan untuk berhenti bekerja. Selama tiga bulan, aku bersama mereka yang sangat baik mengajariku dengan sabar. Kini aku harus meninggalkan mereka demi menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi, universitas.
Akhirnya aku kuliah diperguruan tinggi swasta dikota ku, Universitas Abdurachman Saleh Situbondo. Aku menjadi mahasiswi yang sangat aktif, seperti anak susu SGM saja diriku. Bagaimana tidak, sebagai mahasiswi aku juga bekerja part time menjadi guru bimbel privat anak sekolah dasar. Disamping itu aku juga aktif di unit kegiatan mahasiswa. Semua itu aku lakukan untuk menjauhi rasa kesepian yang berstatus jomlo. Emang sih, jomlo bukanlah hal yang sangat menakutkan bagiku. Tapi setidaknya dengan selalu menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan yang positif, hatiku merasa tak sendiri. Keadaan lebih membaik dengan menjadi wanita yang sholeha dan berkarir demi orang tua, itu merupakan impian harus aku perjuangan untuk mereka.
Yaaa.. sekarang dengan bangga penuh keberanian ku lontarkan, “Aku seorang wanita jomlo, jomlo berkualitas yang takwa kepada aturan dan menjauhi larangan-Nya. Dengan senyuman yang mengembang penuh arti dan kemenangan melawan rasa kesepian.

FABEL

JEJAK KEBAIKAN
Oleh Widya Tri Mauliyana

Dorrr.... Doorr.. Suara pistol yang keras membuat para binatang pergi berhamburan melarikan diri.
Semua binatang dihutan semakin panik. Sang gajah berlari sekencang - kencangnya hingga terperangkap di jaring pemburu. Badan gajah yang kekar tak bisa mengalahkan jaring yang melekat pada tubuhnya.  Keadaan hutan pun semakin kacau akibat ulah pemburu tak berhati itu.
Tikus - tikus pun keluar berhamburan tanpa dipandu. Salah satu tikus kecil yang berlari ikut terperangkap dijaring pemburu bersama gajah.
 "Tolong - tolong... ", teriak keras Cito.
"Hei, buat apa berteriak? Nyawa kita semakin terancam". Ujar Dito sang gajah.
"Terus bagaimana kita keluar dari jaring ini?", tegas Cito.
"Pakai gigimu lah kan tajam", ide Dito.
Kemudian Cito langsung menggerogoti jaring yang menimpa badannya. Alhasil Cito bebas, dan berlari. 
"Heii, tikus kecil tolong aku lah",dengan wajah memohon.
 "Tidakkk, nanti kalau kau bebas seenaknya saja lari tanpa melihat binatang yang lebih kecil terinjak oleh kakimu yang besar", sambil menghampiri Dito.
 "Tolonggg aaaku..", ucapnya terengah - engah.
Melihat keadaan Dito, tak tega dengan cekatan Cito langsung menggerogoti jaring itu hingga terlepas dari badan sang gajah.
 "Terima kasih Cito. Cepat naik lah ke badan ku", badan Dito membungkuk. Lalu mereka berlari bersama mencari tempat yang aman.
Tak lama setelah berlari sangat jauh dari seberang hutan, mereka beristirahat.  "Auhh..auhh... ", suara nafas Dito tak teratur.
"Gajah..gajah..  Terima kasih atas pertolonganmu", ucap Cito.
 "Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, tanpa kamu, aku pasti dibawa oleh pemburu..", tegas Dito sambil mengatur nafasnya.
Tikus hanya diam dan senyumnya mengembang.
"Mulai saat ini aku janji pada mu, jika aku berlari akan berhati - hati agar tak terinjak binatang kecil lagi.", ucapnya lagi.
Sejak saat itu sang gajah Dito mulai bersahabat bersama Cito tikus kecil itu. Akhirnya mereka pergi masing - masing mencari keluarganya.
***
Pagi itu suasana hutan hening sekali, tiba – tiba datang seorang pemburu tikus yang membawa perangkap beserta senapannya. Sang gajah melihat pemburu, segera pergi berlari menuju rumah tikus.
“Ada gempah, masukk cepat!!!!”, teriak Cito kepada keluarganya.
“Hhhh.. Citt..citoo ada pemburu tikus dia ingin menangkapmu. Ujar Dito terengah – engah.
“Aku kira gempa, ternyata kamu. Dimana kamu melihatnya?”Ucap Cito.
 “Disana!! Dia menuju ke arah sini”, menunjukkan arah dengan hidungnya yang panjang. Mendengar perkataan Dito, Cito kebingungan mondar – mandir di depan rumahnya.
“Sudah ayo cepat pergi dari sini!! Panggil seluruh keluargamu. Cepatlah naik keatas badanku!”, menurunkan belalainya. Pinta Dito. Keluarga Cito pun keluar dan naik keatas tubuh Dito.
“Lalu bagaimana dengan teman – teman ku?” cakap Cito yang sedang menaik ke atas tubuh Dito.
“Aku akan menyuruh teman – temanku untuk membawa mereka”. Tegasnya sambil berlari mencari rumah baru untuk tikus.
“Dinoo, segera pergi kerumah tikus diseberang sana, angkutlah mereka semua dan ajak teman yang lain”. Sapa Dito kepada sekumpulan teman – temannya yang bertemu dijalan.
Dengan sigap para gajah itu berlari menuju tempat singgahan para tikus.
Setelah lama berlari hingga tak terhitung berapa langkah Dito, mereka menemukan tempat baru yang sangat aman dan cocok untuk Cito dan para tikus itu. Dan tak lama kemudian, datanglah para teman Dito beserta tikus – tikus di pundak gajah. Cito bersyukur sekali atas keselamatan keluarga dan teman – temannya utuh. Tak menyangka hal yang dilakukan Dito terhadap dirinya. Mereka sangat berterima kasih terhadap Dito dan kawan – kawannya.
“Dito.. dan kalian semua. Kami mengucapkan sangat berterima kasih telah menyelamatkan kami dengan selamat. Kami tidak menyangka atas kebaikan kalian terhadap kami. Kami berhutang budi pada kalian”, ujar Cito dengan nada lemah lembut.
“Kalian juga telah menyelamatkan teman kami, Dito. Ujar salah satu teman Dito.
“Baiklah, mulai saat ini kita bersahabat dan kita semua adalah keluarga”. Senyum Dito bersama teman – temannya.
“Asikkk, saatnya kita berpestaa”. Sahut salah satu tikus itu. Dan mereka merayakan pesta kecil hingga larut malam.
Sejak kejadian itu, Dito dan Cito berteman baik mereka saling membantu setiap harinya. Inilah dibalik kebaikan yang pernah dilakukan Cito kepada Dito yang sebelumnya tanpa pamrih. Mendapat teman baru sekaligus keluarga. Menebar kebaikan terhadap orang lain, maka akan berbuah kebaikan pula. Selamanya mereka hidup rukun dan berbahagia.


Saturday, September 8, 2018

Mahasiswi UNARS Fakultas Ekonomi Manajemen: Esai Lolos Beasiswa Unggulan Kemdikbud Batch 1 Tahun 2018 kategori Masyarakat Berprestasi.


AKU GENERASI UNGGUL KEBANGGAAN BANGSA INDONESIA
Oleh Widya Tri Mauliyana
            Pendidikan senantiasa menjadi kawah candra dimuka untuk mencetak generasi masa depan yang unggul, berkualitas, dan berakhlak mulia sehingga bermanfaat bagi diri, keluarga, masyarakat, negara, dan umat manusia secara keseluruhan. Jika pendidikan senantiasa mengarah pada pencapaian tujuan tersebut, niscaya bangsa ini akan maju, sejahtera, dan berakhlak mulia.
            Generasi unggul merupakan genererasi yang memiliki nilai lebih yang dapat bermanfaat untuk lingkungan sekitar. Seorang dikatakan generasi unggul, jika memiliki kompotensi yang tinggi dan orang tersebut dapat bermanfaat bagi lingkungan. Lingkungan disini dapat diartikan lingkungan keluarga, organisasi dan negara. Generasi unggul dalam keluarga, jika salah satu anggota keluarga dapat mengangkat derajat dan martabat menjadi lebih baik sebelumnya. Generasi unggul dalam lingkup organisasi, apabila sumber daya manusia yang dimiliki organisasi mempunyai kompetensi yang berkualitas tinggi dibidangnya. Sehingga orang - orang di organisasi akan bekerja sama untuk mencapai tujuan organisasi tersebut dengan lebih optimal, baik di dalam organisasi maupun di luar organisasi. Generasi dalam lingkup negara hampir sama dengan lingkung oragnisasi, tetapi cakupannya lebih luas. Generasi unggul dalam sebuah negara yakni orang - orang yang berada di dalam negara tersebut dapat memajukan dan mengembangkan negara dari berbagai aspek.
            Memajukan dan mengembangkan sebuah negara sangat dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusia yang dimiliki negara tersebut. Salah satu faktor kualitas sumber daya manusia yaitu pendidikan. Pendidikan dapat membuat seseorang berkompeten dan berkualitas tinggi. Oleh karena itu, dalam perjalanan kehidupan saya selalu mengutamakan dan mementingkan pendidikan. Sejak awal saya masuk sekolah TK PGRI VII Panji, saya rela hidup jauh dari kedua orang tua demi pendidikan. Dengan kasih sayang seorang nenek, semangat untuk menempuh pendidikan semakin besar.  Meskipun jarak rumah dengan TK lumayan jauh, saya tidak pernah mengeluh jalan kaki setiap hari.
            Setelah saya menyelesaikan pendidikan Taman Kanak - Kanak pada tahun 2005. Melanjutkan pendidikan tingkat sekolah dasar di SDN 1 Olean Situbondo. Sejak sekolah dasar saya tinggal bersama kedua orang tua. Selama sekolah dasar saya selalu masuk peringkat 5 besar dikelas. Disamping itu saya pernah mewakili sekolah dalam lomba MIPA tingkat SD bersama sahabat, tetapi tidak meraih juara.
            Saat kelas 5 hingga lulus saya tidak pernah memberatkan kedua orang tua dalam hal keuangan. Disekolah saya berjualan bersama sahabat dekat saya. Dari gambar kartun Upin - Ipin, dan pemandangan saya tawarkan kepada adik kelas. Dari penghasilan tersebut saya bisa menabung dan membelikan kebutuhan sekolah serta bisa menambah biaya sekolah di Taman Pendidikan Al - Quran (TPQ) Al - Mubarak hingga wisuda.
            Menginjak lulus sekolah dasar, bisnis berjualan gambar terhentikan. Pada tahun 2011, saya lulus dengan nilai memuaskan. Setelah itu, saya berhasil diterima di SMPN 3 Situbondo. Dari awal masuk saya selalu berangkat naik sepeda keranjang dengan jarak kurang lebih 3 KM  dari rumah. Kemandirian tetap saya lakukan dengan berjualan pulsa. Tetapi dalam urusan nilai akademik dari kelas 7 – 9 selalu masuk 10 besar. Disamping itu, saya selalu rajin dalam kegiatan tambahan pelajaran hingga kelas 9 di berbagai tempat. Tidak peduli hujan, saya selalu hadir demi menambah ilmu. Tiba pada hari pelepasan dan pengumuman kelulusan, nama saya masuk dalam peringkat 7  Ujian Akhir Sekolah dan saya dinyatakan lulus dengan nilai yang memuaskan.
            Setelah lulus dari SMP, saya melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Kejuruan yaitu SMKN 1 Panji yang merupakan sekolah favorit kejuruan di Situbondo dengan jumlah siswa ribuan pertahun. Di sekolah tersebut saya memilih Jurusan Perbankan. Jurusan baru pada tahun 2014. Saya memilih jurusan tersebut karena beberapa alasan. Pertama, saya ingin menjadi pegawai bank. Tetapi karena tinggi badan tidak mendukung, saya tetap semangat mempelajari ilmu perbankan agar menjadi Dosen. Kedua, saya mempunyai pemikiran bahwa dunia perbankan sangat mempengaruhi perekonomian secara agregat, untuk itu saya akan turut berperan dalam meningkatkan perekonomian negara. Tujuan saya menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yaitu saya ingin memiliki kompetensi dibidang ahli perbankan hingga bisa menjadi pengajar yang mahir ilmu perbankan setelah lulus. Ketiga, saya suka berhitung bunga bank. Hal itu menjadi nilai tambah saya pribadi.
            Pada saat menempuh pendidikan di SMK, saya tidak mampu membeli buku perbankan, karena sangat mahal. Tetapi, saya selalu mencari sumber dari internet mengenai materi  perbankan dan buku – buku di perpustakaan sekolah maupun perpustakaan daerah di Situbondo. Sejak awal masuk sekolah SMK, saya selalu mengalami masalah keuangan karena ayah telah pensiun ditambah kurang sehat. Pada akhirnya, saya memutuskan menjual Handphone Android (hasil berjualan pulsa saat SMP) demi membayar uang semester. Ketika penerimaan raport saya menduduki peringkat 2 di kelas dan dinyatakan naik kelas.
            Di kelas 11, saya semakin rajin dan giat belajar untuk menghadapi PKL (Praktik Kerja Lapangan). Akhirnya saya di tempatkan di PT. Bank Jatim Cab. Situbondo. Praktik Kerja Lapangan di bank pemerintah, merupakan suatu keberuntungan bagi saya pribadi. Di sana banyak pengalaman dan pelajaran mengenai ilmu perbankan yang saya praktikkan secara langsung. Seperti menyortir uang, pembukaan rekening baru, pengkinian data, analis kredit, dan lain - lain. Selama 3 bulan saya sangat puas PKL di Bank Jatim Cab. Situbondo. Banyak ilmu yang saya dapatkan mengenai dunia perbankan. Menginjak kenaikan kelas, nilai akademis tidak pernah menurun atau meningkat. Lagi - lagi meraih peringkat 2 di kelas. Saya dinyatakan naik kelas 12.
            Saat kelas 12, saya mewakili sekolah mengikuti lomba Jawara tingkat SMK Kabupaten Situbondo 2016. Saya membuat kerajinan miniatur sepeda bambu. Berkat kerja keras dan dukungan dari orang sekitar, saya meraih Juara Harapan 1 dan mendapatkan uang tunai Rp 750.000,- tanpa sertifikat. Dari hasil uang tersebut, saya bayarkan uang semester, untuk bisa ikut ujian. Setelah ujian, saya kembali lagi mewakili sekolah ikut Lomba Rangking 1 yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia Cabang Jember di Pendopo Situbondo. Saat itu saya menjadi ketua tim, yang terdiri dari 5 orang. Bersama 4 orang teman, saya belajar bersungguh - sungguh, hingga larut malam pun kami belajar bersama. Meskipun kami telah belajar terus menerus, kami kalah dengan anak SMA. Meskipun kalah, kami tetap semangat dan terus mempelajari ilmu perbankan. Mengetahui ada program beasiswa PPA BCA saya langsung daftar online penempatan tes di Kota Malang.
            Tidak terasa memasuki awal tahun, jadwal ujian semakin lama semakin padat. Saat itu saya dinyatakan lolos dalam seleksi administrasi. Tepat pada tanggal 12 Januari 2017 saya mengikuti ujian tulis di Universitas Kanjuruhan Malang. Dari pagi hingga siang ujian. Ternyata saya dinyatakan tidak lolos ke tahap ke 3. Melihat hasil pengumuman tersebut, semangat mencari beasiswa lain untuk melanjutkan pendidikan semakin besar.
            Setelah itu, saya disibukkan tambahan pelajaran, belajar kelompok bersama sampai memesan buku UN untuk  SMK. Dari berbagai sumber saya pelajari dan dipahami. Semenjak itu saya fokus belajar untuk UNBK. Disamping kesibukan untuk ujian, saya juga mengurusi berbagai persyaratan Bidikmisi, tetapi ternyata saya tidak bisa ikut dalam SNMPTN 2017. Tetapi saya tidak berkecil hati. Saya selalu berdoa dan belajar untuk bisa masuk PTN yang saya impikan.
            Tepat tanggal 3 April 2017 saya Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) selama empat hari. Selama tiga hari ujian lancar, menginjak hari ke empat mata ujian kompetensi perbankan saat itu juga server eror. Dari 40 soal hanya muncul 16 soal. Akhirnya, saya dan teman sekelas dinyatakan mengikuti UNBK susulan tepat seminggu setelahnya. Semangat saya semakin tinggi untuk menghadapi ujian terakhir.
            Hari yang ditunggu telah tiba, saya dan teman mengikti ujian susulan yang berjalan lancar sampai selesai. Setelah ujian selesai, saya sibuk dengan mengurusi pendaftaran SBMPTN. Saya mendaftarkan diri di Universitas Negeri Jember dengan Fakultas Ekonomi prodi Perbankan Syariah. Sambil menunggu Tes SBMPTN, saya melamar pekerjaan di PT. PNM Mekaar. Alasan saya bekerja untuk biaya saya masuk PTN. Disamping bekerja, saya mengikuti Tes SBMPTN ke Jember. Saat itu rasa kecewa dan sedih menghantui pikiran, karena ayah saya sedang sakit tidak bisa mengantarkan. Dan akhirnya saya berangkat sendiri naik Bus umum dan menginap di Kost teman. Setelah ujian, saya kembali pulang dan bekerja. Tidak terasa pengumuman kelulusan telah tiba, saya dinyatakan lulus dengan nilai keahlian perbankan yang sangat memuaskan. Beberapa hari kemudian, pengumuman hasil SBMPTN menyatakan tidak lolos. Rasa kecewa  menerima kenyataan bahwa saya tidak bisa kuliah dengan beasiswa Bidikmisi. Tetapi semangat dari orang tua terus memotivasi, dan akhirnya saya memutuskan kuliah di Universitas Abdurachman Saleh Situbondo. Salah satu perguruan tinggi swasta terbesar yang ada di Situbondo. Saat itu saya memilih Fakultas Ekonomi Manajemen Prodi Keuangan. Alasan memilih keuangan, karena saya sangat suka dari SMK menganalis Laporan Keuangan. Hasil kerja keras saya bayarkan untuk pendaftaran dan daftar ulang. Setelah pendaftaran, saya mengajukan surat  pengunduran diri dari tempat kerja dikarenakan kuliah. 
            Di awal masuk kuliah semester pertama, saya selalu rajin belajar. Disamping kuliah saya juga mencari uang tambahan untuk kuliah. Saya menjadi guru privat anak SD. Selama kuliah sambil kerja itu tantangan bagi saya pribadi. Mengatur waktu untuk belajar dan bekerja. Semenjak masuk kuliah saya juga bergabung di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Penalaran. Disana banyak belajar mengenai penulisan karya ilmiah. Hingga saya memberanikan diri ikut berbagai lomba karya tulis ilmiah. Berawal dari keberanian dan belajar akhirnya saya masuk Juara 3 dalam lomba LKTI yang diadakan BEM - Unars. Selain itu juga saya mengikuti lomba Esai di Dinas Pariwisata Situbondo dengan kategori Harapan 3. Di samping sibuk dengan kegiatan diluar kampus, nilai akademis saya memperoleh IPK 4,00 untuk semester 1. Hasil dari belajar dan berdoa, saya menunjukkan Kartu Hasil Studi kepada ayah yang sedang sakit. Ayah sangat bangga dengan hasil yang sempurna. Tapi saya tidak tinggi hati, selalu menjadi pribadi yang sederhana dan berprestasi.
            Memasuki semester 2, saya sedih karena tidak ada uang sama sekali untuk membayar uang UKT. Kebetulan ada reward dari bisnis MSI yang saya jalani bisa untuk dibayarkan semester 2. Sejak semester  2 banyak teman - teman saya belajar kerumah mengenai mata kuliah. Hingga ibu saya mendoakan, semoga cita - cita menjadi Dosen segera terkabulkan. Doa ibu selalu saya ingat, belajar dan terus belajar tanpa mengenal lelah serta putus asa.
            Apakah saya termasuk generasi unggul kebanggaan bangsa Indonesia? Ya, karena saya memiliki semangat yang tinggi dalam menempuh pendidikan melanjutkan keahlian yaitu perbankan yang masih haus akan ilmu. Keterampilan yang saya miliki tidak hanya untuk saya pribadi tetapi dapat bermanfaat untuk orang lain. Saya berusaha keras menjadi generasi unggul melalui pendidikan dengan ingin menjadi Dosen agar saya bisa menghasilkan pemuda / pemudi yang berkualitas sehingga dapat berguna bagi bangsa dan negara Indonesia. Sebagai generasi unggul harus terus belajar untuk lebih maju dan menyebarkan hal - hal positif kepada semua orang dan lingkungan sekitar. Generasi unggul harus memiliki hard skill dan soft skill yang memadai. Seorang generasi unggul kebanggaan bangsa Indonesia harus menjunjung tinggi ciri khas bangsa Indonesia. Salah satu ciri khas bangsa Indonesia adalah kebudayaan. Saya berusaha penuh memelihara dan melestarikan kebudayaan Indonesia, karena keagungan suatu bangsa akan terlihat dari budaya yang ada di dalamnya.

Cerpen untuk Ayah

Demi Gelar Sarjana untuk Ayah “Aydiw” Kringg..kringgg..kringg Suara ponsel berdering keras mengusik ke ramaian ruangan kerja, ternya...