Friday, October 5, 2018

Cerpen Sendiri



CATATAN KESENDIRIAN
Widya Tri Mauliyana (Pena “Aydiw”)
Kesetiaan tak bisa diukur dari seberapa lama menjalin hubungan. Ketika beda sekolah menjadi suatu tantangan yang sangat menyiksa perasaan. Terlebih lagi ketika pasangan telah berubah tak seperti dulu awal percintaan dimulai. Kebohongan terkadang dianggap sepele selalu menjadi akhir dari sebuah kepercayaan.
Seperti awalnya aku bersama dia yang bernama Eza. Aku bernama Cennik, tapi biasa dipanggil Cece. Ketika aku duduk dibangku Sekolah Menengah Kejuruan sedangkan Eza bersekolah di Sekolah Menengah Atas. Pikirku, meskipun berbeda sekolah hubungan asmara bersama Eza tetap sama seperti dulu. Tapi suasananya yang berbeda, lingkungannya pun juga berbeda. Aku tak bisa lagi melihatnya ataupun mengawasinya. Meskipun sama seperti sebelumnya, hubungan kami yang hanya sebatas sms saja, tanpa telepon, dan tanpa bertemu. Namun semakin hari obrolan kami semakin jarang. Topik obrolan juga semakin membosankan. Entah dia sibuk atau lagi banyak tugas, aku tak tahu tentang kabarnya. Seperti tak ada niat lagi untuk memberiku kabar. Bahkan aku sedih, karna aku tak bisa lagi melihatnya kabar dirinya dengan mata ku lagi. Tapi waktu berkata lain, dia mulai berubah seperti power ranger. Hanya saja dia tak berubah konstum, sikap dan perlakuannya terhadapku seperti layaknya orang tak mengenali.
Setiap hari tingkah lakunya membuat aku bingung. Bahkan hampir tidak pernah menghubungi seharian untuk sekilas menanyakan kabar. Tapi masih saja aku biarkan, mungkin hanya menyesuaikan keadaan dengan sekolah baru banyak tugas, pikirku saat itu. Lama kelamaan dia ketahuan selingkuh, hanya saja aku diam, aku ingin dia jujur sebagai laki – laki yang bertanggung jawab.
Waktu yang ditunggu – tunggu tak kunjung dia berkata jujur. Tiba – tiba dia memutuskan aku karena alasan untuk ingin sendiri. Dia pikir aku percaya dengan omongannya. Tidak!!! Alasan yang sangat klasik tak masuk akal. Padahal aku sudah mengetahui ia berselingkuh dengan adik kelasnya. Tidak sengaja aku buka FB bukan semata – mata untuk mencari kebenaran, saat aku melihat dinding FB ku muncul dia berstatus berpacaran mulai 1 bulan yang lalu.
Tidak bisa dibayangkan, bagaimana histerisnya aku saat cinta yang telah dibangun lama dengan tanganku dan dia hilang begitu saja. Tiga tahun delapan bulan, sekian kisah kita lalui bersama, mungkin kalau diceritakan akan jadi novel yang sangat tebal. Tapi sayangnya, tak sempat ku lukis hitam diatas putih indahnya rasa kebersamaan yang pernah terjadi.
Bulan demi bulan terlampaui, rasa sendiri yang terus menyelimuti benak otakku. Aku masih belum yakin, aku sendiri tanpa dia. Sore itu, aku sendiri bersama motor blue matic kesayangan mengunjungi sebuah perpustakaan di kota ku, aku teringat waktu kebersamaan dengannya kala itu. Ya, perpustakaan daerah yang selalu menjadi tempat aku bersamanya menghabiskan waktu sepulang sekolah. Saat aku menoleh sekitar perpustakaan, mungkin dia ada  disini juga. Ternyata di seluk beluknya ruangan perpustakaan tak terlihat sedikitpun batang hidungnya.
Dulu sebelum ada kata putus, perpustakaan daerah tempat aku bersama eza mengukir indahnya belajar bersama, sambil menuju meja yang sering menjadi pilihan duduk dibawah lampu pijar yang terang. Ketika aku mengambil salah satu buku ekonomi, ku buka ternyata ada bukti peminjaman yang bertulis namanya. Aku semakin baper membaca namanya, sampai aku dibawa gagal fokus terus mengingatnya. Dengan spontan meletakkan buku itu kembali di raknya, lalu berjalan ke arah pintu keluar dari tempat horor saat itu. Mungkin karena ada nama dia dibuku tersebut, perpustakaan serasa menakutkan bagiku. Kala itu juga motor blue matic langsung membawaku pergi ke tempat persinggahan, yaitu kamar.
Dikamar aku masih terus mengingat namanya jelas terekam oleh otakku. Andai saja aku bisa memformat isi otak ku atau ganti yang baru, pasti akan ku beli saat itu juga ditoko. Ucap hatiku. Pikiran ku semakin konyol mengingatnya, bahkan nafsu makan pun menurun saat aku masih mengingatnya. Sampai aku bingung apa yang harus aku lakukan untuk melupakannya.
Malamnya ibuku mengajakku pergi ke pengajian majelis talim di sekitar kompleks rumah. Tanpa banyak drama, dengan sigap aku langsung berganti pakaian yang lebih sopan. Entah kemasukan apa diriku yang mau datang ke pengajian majelis talim kala itu. Lalu kami berjalan kaki langkah demi langkah menelusuri jalan dikompleks. Tiba disana, rupanya aku bertemu teman sekolah madrasah dia bernama Dina. Kami pun duduk bersebelahan sekaligus bercengkrama sebelum pengajian dimulai. Sepuluh menit kemudian, pengajian akan segera dimulai. Akupun mulai merapikan duduk agar santai menikmati materi yang diberikan. Berbagai materi telah disampaikan, ya tentang kenalakan remaja. Pantas saja ibuku selalu mengajakku untuk ke pengajian, ternyata selalu ada bahasan menarik untuk ku pahami dalam kehidupan sehari - hari. Dipengajian itu dibahas hukum dan larangan dalam pacaran. Tercengang mataku saat bu ustadzah berceramah, lantas apa yang telah aku lakukan selama itu. Tak bisa ku bendung lagi bulir – bulir air mata jatuh tanpa disuruh. Aku sangat malu terhadap diriku sendiri. Tapi aku bersyukur telah tak bersamanya lagi.
Alhamdulillah, saat pengajian selesai aku berjanji pada diriku sendiri untuk selalu menjauhi larangannya. Pengajian ta’lim sangat menghipnotis diriku untuk menjadi diri yang lebih baik menuju sangat baik. Sepulang pengajian kami saling bersalaman sesama jamaah. Kamipun kembali kerumah dengan suasana hatiku yang lebih nyaman dari sebelumnya.
***
Keesokannya, aku disekolah semakin rajin menjelang Ujian Akhir, tak terasa kurang lebih 3 tahun aku menggali ilmu disekolah menengah kejuruan akan segera berakhir, tapi keduluan hubunganku dengan dirinya yang berakhir daripada lulus. *eh baper. Ku hiraukan masalah yang menimpaku saat itu. Aku tetap teringat yang diucapkan oleh ustadzah saat pengajian , “Orang baik akan berjodoh dengan yang baik pula, jadi tak perlu kita pacaran, itu hanya menambah dosa”. Perkataan itu selalu memotivasiku untuk selalu giat belajar demi mencapai mimpiku tanpa harus sibuk mencari penggantinya, menurutku itu tidak berfaedah. Jodoh akan datang diwaktu yang tepat pula, bisik hatiku.
Disela – sela masalah menghujam hatiku, kegiatan bimbel dan belajar kelompok bersama teman – teman semakin padat. Kupaksakan otakku untuk fokus ujian dan tak mengingatnya lagi. Tak dipungkiri rintangan yang ku lalui untuk melupakannya berliku seperti jalan, masih ada saja gosip yang menyeretku untuk flasback mengingatnya.
“Ce, si Eza lagi bikin video lucu bareng adik sayangnya di vlognya”, lelucon Sasya.
“Auh ah, aku tak peduli lagi”, cetusku sambil pergi ke toilet.
Kenapa saat aku mendengar namanya hati seperti ditusuk pisau? Mungkin aku belum bisa melupakannya. Diam sejenak merenungkan kejadian saat itu didepan cermin. “Hey, tanpa Eza hidup kamu juga sangat berarti. Buat apa kamu mengingatnya kembali?” ucap kata hatiku saat itu.
Aku sadar, dibawah alam sadar aku teramat menyukai lelaki itu. Dan itu salah satu kebodohan bagiku. Dia bukan suamiku dan belum tentu juga jadi suamiku, jadi buat apa aku harus menyukainya teramat dalam? Bahkan dia meninggalkan aku dengan tidak sopan.
            Akhirnya sepulang sekolah, aku bergegas kekamar dan tak lupa mengambil kardus besar. Dengan cekatan aku membuka lemari, semua barang pemberiannya aku masukan kedalam kardus besar itu. Lalu aku buang di tempat sampah tepat depan rumah yang kebetulan petugas sampah yang setiap sore mengambil tumpukan sampah dikompleks rumahku.
“Kamu adalah sampah yang harus aku buang pada tempatnya. Terima kasih atas cerita yang pernah kau berikan untuk mengisi masa lalu ku saat kemarin” kata hatiku sambil melihat petugas sampah membawa kenangan itu. Dan setelah itu, aku yakinkan tidak pacaran lagi.
Sebagai seorang siswi aku masih ingat akan kewajiban, belajar dan terus belajar mengejar impian. Yaahh, jadwal ujian mulai menungguku untuk berperang melawan akhir dari masa sekolah putih abu - abu, demi selembar kertas yang bertulisan “Lulus”, itu yang akan ku raih saat ini, bukan hal dia yang meninggalkan tanpa pamit.
            Hari demi hari terlalui, ujian semakin dekat tapi aku dan dia makin jauh. Ups baper lagii... Disamping sibuk belajar aku bersama seorang teman dekat ku bernama Adzkia, tak lupa refresing untuk menghilangkan kejenuhan yang akan menghadapi ujian. Kita sering menghabiskan banyak waktu untuk kuliner. Kata Adzkia, banyak makan salah satu tips menghilangkan rasa sakit hati. Emang dia teman yang paling baik yang pernah dikehidupanku. Terkadang kami lupa waktu untuk pulang kerumah, karena sibuk cari makanan yang paling enak. Paling sering aku dimarahi karena lupa untuk pulang. Dari sekian semangatnya untuk move on, berbagai cara yang diberikan Adzkia aku ikuti semua.
***     
Waktu yang ditunggu telah menjemputku untuk pergi kesekolah, yaitu ujian nasional. Tepat pukul 6 pagi aku telah berada disekolah yang siap mengikuti ujian. Tettt, pertanda ujian akan segera dimulai. Didalam ruangan aku berdoa dan selalu memikirkan wajah kedua orang tuaku. Selama 2 jam aku didalam ruangan ber- AC, padahal ruangan dingin sekali tapi aku merasa masih panas. Mungkin karena efek berfikir mengerjakan soal – soal ujian yang sangat banyak. Selama empat hari aku ujian nasional, kegiatanku hanya penuh latihan soal dan belajar. Waktu mengatakan, sekarang aku bebas dari berbagai ujian dan menunggu tiba waktunya pengumuman kelulusan.
Berbeda dengan yang lain sibuk merencanakan liburan, aku hanya terpaku menjadi pendengar setia dari celotehan temanku. Dikantin sekolah, aku masih saja memikirkannya betapa bodoh diri ini. “Ce, lu kenapa sih masih melamun terus, ujian dah kelar nih. Gimana kita liburan bareng aja ke pantai atau ke danau?” kata Alyn sembari meminum es. Tanpa menjawab persetujuanku. Mereka memutuskan, akhir pekan ini kita ke danau aja. Aku hanya tersenyum pertanda setuju dengan ide mereka. Tettt..tettt.. bel berbunyi pertanda ujian telah berakhir untuk kelas 12 boleh pulang. Akhirnya kami pulang bersama dengan angkutan umum dan kembali kerumah masing – masing.
Disaat keterpurukan, kamar menjadi tempat yang sangat nyaman bagiku. Merebahkan diri diatas kasur sekilas memanjakan hati yang lelah ditinggalkannya tanpa memberiku rambu untuk pergi tak kembali. Aku mulai membiasakan diri menikmati rasa sakit di dada. Sedikitpun aku tak membencinya, karna membenci akan membuatku sulit melupakannya.
Sembari menunggu pengumuman, aku tak mau waktuku terbuang tanpa menghasilkan sesuatu. Aku orangnya tak bisa saja berdiam diri dirumah. Ketika ada lowongan kerja, langsung saja aku melamarkan diri. Mungkin dengan aku bekerja, aku bisa mengusir kesepian yang ada dalam hatiku saat ini. Aku juga tak mau terus melamunkan dia yang telah pergi.
Bekerja, alasan yang tepat untuk berhenti memikirkannya. Suatu perusahaan milik negara, menerima ku sebagai account officer. Alhamdulillah,  ucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa aku diterima bekerja sekaligus ditempatkan di kota kelahiran. Aku sangat menikmati pekerjaan itu, sampai aku tak pernah merasakan kesepian dari status jomlo yang ku alami kala itu. Disana juga banyak hal baru yang aku dapatkan dari rekan kerja. Dimulai dari pengalaman berpacaran, masakan, tempat wisata, serta kebudayaan yang berbeda dari gaya bicara aku dapatkan semuanya dari mereka. Aku sangat senang sekali, mendapatkan kehidupan baru dari mereka. Senyumku mulai mengembang saat aku terbebas dari masa lalu yang merupakan penyakit ketika itu.
Dan sekarang dengan rekan kerja baru, mereka memberiku banyak cerita yang sangat menarik aku geluti, ya dunia kerja. Aku telah menginjak tahap wanita dewasa, harus menjadi wanita karir yang cemerlang dan sukses. Itu impian saat itu, mungkin tak semudah aku dapatkan. Banyak rintangan yang aku alami saat bekerja. Semua itu aku pasrahkan kepada Tuhan sang pencipta. Tiap bulan, aku selalu memenuhi target yang diminta. Aku bisa dikatakan staf yang baik kala itu. hehe..
Tiba waktu pengumuman kelulusan, mengatakan bahwa aku lulus dengan nilai cukup baik, menurutku. Aku juga merasa sedih ketika itu juga orang tua ku menyuruh berhenti bekerja. Perasaan sangat sedih dan berat aku harus meninggalkan rekan – rekan kerja ku yang telah membantu mengusir rasa kesepianku ketika itu. Pendidikan memang sangat penting bagiku, sehingga aku putuskan untuk berhenti bekerja. Selama tiga bulan, aku bersama mereka yang sangat baik mengajariku dengan sabar. Kini aku harus meninggalkan mereka demi menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi, universitas.
Akhirnya aku kuliah diperguruan tinggi swasta dikota ku, Universitas Abdurachman Saleh Situbondo. Aku menjadi mahasiswi yang sangat aktif, seperti anak susu SGM saja diriku. Bagaimana tidak, sebagai mahasiswi aku juga bekerja part time menjadi guru bimbel privat anak sekolah dasar. Disamping itu aku juga aktif di unit kegiatan mahasiswa. Semua itu aku lakukan untuk menjauhi rasa kesepian yang berstatus jomlo. Emang sih, jomlo bukanlah hal yang sangat menakutkan bagiku. Tapi setidaknya dengan selalu menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan yang positif, hatiku merasa tak sendiri. Keadaan lebih membaik dengan menjadi wanita yang sholeha dan berkarir demi orang tua, itu merupakan impian harus aku perjuangan untuk mereka.
Yaaa.. sekarang dengan bangga penuh keberanian ku lontarkan, “Aku seorang wanita jomlo, jomlo berkualitas yang takwa kepada aturan dan menjauhi larangan-Nya. Dengan senyuman yang mengembang penuh arti dan kemenangan melawan rasa kesepian.

No comments:

Post a Comment

Cerpen untuk Ayah

Demi Gelar Sarjana untuk Ayah “Aydiw” Kringg..kringgg..kringg Suara ponsel berdering keras mengusik ke ramaian ruangan kerja, ternya...