CATATAN KESENDIRIAN
Widya Tri Mauliyana (Pena “Aydiw”)
Kesetiaan tak bisa diukur dari seberapa lama
menjalin hubungan. Ketika beda sekolah menjadi suatu tantangan yang sangat
menyiksa perasaan. Terlebih lagi ketika pasangan telah berubah tak seperti dulu
awal percintaan dimulai. Kebohongan terkadang dianggap sepele selalu menjadi
akhir dari sebuah kepercayaan.
Seperti awalnya aku bersama dia yang bernama
Eza. Aku bernama Cennik, tapi
biasa dipanggil Cece. Ketika aku duduk dibangku Sekolah Menengah Kejuruan sedangkan Eza bersekolah di Sekolah
Menengah Atas. Pikirku, meskipun berbeda sekolah hubungan asmara bersama Eza tetap sama seperti dulu. Tapi suasananya yang
berbeda, lingkungannya pun juga berbeda. Aku tak bisa lagi melihatnya ataupun
mengawasinya. Meskipun sama seperti sebelumnya, hubungan kami yang hanya
sebatas sms saja, tanpa telepon, dan tanpa bertemu. Namun semakin hari obrolan
kami semakin jarang. Topik obrolan juga semakin membosankan. Entah dia sibuk
atau lagi banyak tugas, aku tak tahu tentang kabarnya. Seperti tak ada niat
lagi untuk memberiku kabar. Bahkan aku sedih, karna aku tak bisa lagi
melihatnya kabar dirinya dengan mata ku lagi. Tapi waktu berkata lain, dia mulai berubah seperti
power ranger. Hanya saja dia tak berubah konstum, sikap dan perlakuannya
terhadapku seperti layaknya orang tak mengenali.
Setiap hari tingkah
lakunya membuat aku bingung. Bahkan hampir tidak pernah menghubungi seharian
untuk sekilas menanyakan kabar. Tapi masih saja aku biarkan, mungkin hanya
menyesuaikan keadaan dengan sekolah baru banyak tugas, pikirku saat itu. Lama
kelamaan dia ketahuan selingkuh, hanya saja aku diam, aku ingin dia jujur
sebagai laki – laki yang bertanggung jawab.
Waktu yang ditunggu –
tunggu tak kunjung dia berkata jujur. Tiba – tiba dia memutuskan aku karena alasan untuk ingin
sendiri. Dia pikir aku percaya dengan omongannya. Tidak!!! Alasan yang sangat klasik tak masuk akal. Padahal aku
sudah mengetahui ia
berselingkuh dengan adik kelasnya. Tidak sengaja aku buka FB bukan semata – mata untuk mencari
kebenaran, saat aku melihat dinding FB ku muncul dia berstatus berpacaran mulai
1 bulan yang lalu.
Tidak bisa dibayangkan, bagaimana histerisnya
aku saat cinta yang telah dibangun lama dengan tanganku dan dia hilang begitu saja. Tiga tahun delapan bulan,
sekian kisah kita lalui bersama, mungkin kalau diceritakan akan jadi novel yang
sangat tebal. Tapi sayangnya, tak sempat ku lukis hitam diatas putih indahnya rasa kebersamaan yang pernah terjadi.
Bulan demi bulan terlampaui, rasa sendiri yang
terus menyelimuti benak otakku. Aku masih belum yakin, aku sendiri tanpa dia. Sore itu, aku sendiri bersama motor blue matic kesayangan
mengunjungi sebuah perpustakaan di kota ku, aku teringat waktu kebersamaan
dengannya kala itu. Ya, perpustakaan daerah yang selalu menjadi tempat aku
bersamanya menghabiskan waktu sepulang sekolah. Saat aku menoleh sekitar perpustakaan, mungkin dia
ada disini juga. Ternyata di seluk
beluknya ruangan perpustakaan tak terlihat sedikitpun batang hidungnya.
Dulu sebelum ada kata putus, perpustakaan daerah tempat aku bersama eza mengukir indahnya
belajar bersama, sambil menuju meja yang sering menjadi pilihan duduk dibawah
lampu pijar yang terang. Ketika aku mengambil salah satu buku ekonomi, ku buka
ternyata ada bukti peminjaman yang bertulis namanya. Aku semakin baper membaca
namanya, sampai aku dibawa gagal fokus terus mengingatnya. Dengan spontan
meletakkan buku itu kembali di raknya, lalu berjalan ke arah pintu keluar dari
tempat horor saat itu. Mungkin karena ada nama dia dibuku tersebut, perpustakaan serasa menakutkan bagiku. Kala itu juga motor blue
matic langsung membawaku pergi ke tempat persinggahan, yaitu kamar.
Dikamar aku masih terus mengingat namanya
jelas terekam oleh otakku. Andai saja aku bisa memformat isi otak ku atau ganti
yang baru, pasti akan ku beli saat itu juga ditoko. Ucap hatiku. Pikiran ku
semakin konyol mengingatnya, bahkan nafsu makan pun menurun saat aku masih
mengingatnya. Sampai aku bingung apa yang harus aku lakukan untuk melupakannya.
Malamnya ibuku mengajakku pergi ke pengajian
majelis ta’lim di
sekitar kompleks rumah. Tanpa banyak drama, dengan sigap aku langsung berganti pakaian
yang lebih sopan. Entah kemasukan apa diriku yang mau datang ke pengajian
majelis ta’lim kala
itu. Lalu kami berjalan kaki langkah demi langkah menelusuri jalan
dikompleks. Tiba
disana, rupanya aku bertemu teman sekolah madrasah dia bernama Dina. Kami pun
duduk bersebelahan sekaligus bercengkrama sebelum pengajian dimulai. Sepuluh menit kemudian, pengajian akan segera dimulai. Akupun mulai merapikan duduk agar
santai menikmati materi yang diberikan. Berbagai materi telah disampaikan, ya
tentang kenalakan remaja. Pantas saja ibuku selalu mengajakku untuk ke pengajian, ternyata selalu ada bahasan
menarik untuk ku pahami dalam kehidupan sehari - hari. Dipengajian itu dibahas
hukum dan larangan dalam pacaran. Tercengang mataku saat bu ustadzah
berceramah, lantas apa yang telah aku lakukan selama itu. Tak bisa ku bendung
lagi bulir – bulir air mata jatuh tanpa disuruh. Aku sangat malu terhadap
diriku sendiri. Tapi aku bersyukur telah tak bersamanya lagi.
Alhamdulillah, saat pengajian selesai aku
berjanji pada diriku sendiri untuk selalu menjauhi larangannya. Pengajian
ta’lim sangat menghipnotis diriku untuk menjadi diri yang lebih baik menuju
sangat baik. Sepulang pengajian kami saling bersalaman sesama jamaah. Kamipun
kembali kerumah dengan suasana hatiku yang lebih nyaman dari sebelumnya.
***
Keesokannya, aku disekolah semakin rajin menjelang Ujian Akhir,
tak terasa kurang lebih 3
tahun aku menggali ilmu disekolah menengah kejuruan akan segera berakhir, tapi
keduluan hubunganku dengan dirinya yang berakhir daripada lulus. *eh baper. Ku
hiraukan masalah
yang menimpaku saat itu. Aku
tetap teringat yang diucapkan oleh ustadzah saat pengajian , “Orang baik akan
berjodoh dengan yang baik pula, jadi tak perlu kita pacaran, itu hanya menambah
dosa”. Perkataan itu selalu memotivasiku untuk selalu giat belajar demi
mencapai mimpiku tanpa harus sibuk mencari penggantinya, menurutku itu tidak
berfaedah. Jodoh akan datang diwaktu yang tepat pula, bisik hatiku.
Disela – sela masalah
menghujam hatiku, kegiatan bimbel dan belajar kelompok bersama teman – teman
semakin padat. Kupaksakan otakku untuk fokus ujian dan tak mengingatnya lagi.
Tak dipungkiri rintangan yang ku lalui untuk melupakannya berliku seperti jalan,
masih ada saja gosip yang menyeretku untuk flasback mengingatnya.
“Ce, si Eza lagi bikin
video lucu bareng adik sayangnya di vlognya”, lelucon Sasya.
“Auh
ah, aku tak peduli lagi”, cetusku sambil
pergi ke toilet.
Kenapa
saat aku mendengar namanya hati seperti ditusuk
pisau? Mungkin aku belum bisa melupakannya.
Diam sejenak merenungkan kejadian saat itu didepan cermin. “Hey, tanpa Eza
hidup kamu juga sangat berarti. Buat apa kamu mengingatnya kembali?” ucap kata
hatiku saat itu.
Aku sadar, dibawah alam
sadar aku teramat menyukai lelaki itu. Dan itu salah satu kebodohan bagiku. Dia bukan
suamiku dan belum tentu juga jadi suamiku, jadi buat apa aku harus menyukainya
teramat dalam? Bahkan dia meninggalkan aku dengan tidak sopan.
Akhirnya sepulang sekolah, aku
bergegas kekamar dan tak lupa mengambil kardus besar. Dengan cekatan aku
membuka lemari, semua barang pemberiannya aku masukan kedalam kardus besar itu.
Lalu aku buang di tempat sampah tepat depan rumah yang kebetulan petugas sampah yang setiap sore
mengambil tumpukan sampah dikompleks rumahku.
“Kamu
adalah sampah yang harus aku buang pada tempatnya. Terima kasih atas cerita
yang pernah kau berikan untuk mengisi masa lalu ku saat kemarin” kata hatiku
sambil melihat petugas sampah membawa kenangan itu. Dan setelah itu, aku yakinkan tidak pacaran lagi.
Sebagai seorang siswi aku masih ingat akan kewajiban,
belajar dan terus belajar mengejar impian. Yaahh, jadwal ujian mulai menungguku
untuk berperang melawan akhir dari masa sekolah putih abu - abu, demi selembar
kertas yang bertulisan “Lulus”, itu yang akan ku raih saat ini, bukan hal dia
yang meninggalkan tanpa pamit.
Hari demi hari terlalui, ujian
semakin dekat tapi aku dan dia makin jauh. Ups baper lagii... Disamping sibuk belajar
aku bersama seorang teman dekat ku bernama Adzkia, tak lupa refresing untuk
menghilangkan kejenuhan yang akan menghadapi
ujian. Kita sering menghabiskan banyak waktu untuk kuliner. Kata Adzkia, banyak
makan salah satu tips menghilangkan rasa sakit hati. Emang dia teman yang
paling baik yang pernah dikehidupanku. Terkadang kami lupa waktu untuk pulang
kerumah, karena sibuk cari makanan yang paling enak. Paling sering aku dimarahi
karena lupa untuk pulang. Dari sekian semangatnya untuk move on, berbagai cara
yang diberikan Adzkia aku ikuti semua.
***
Waktu
yang ditunggu telah menjemputku untuk pergi kesekolah, yaitu ujian nasional.
Tepat pukul 6 pagi aku telah berada disekolah yang siap mengikuti ujian. Tettt,
pertanda ujian akan segera dimulai. Didalam ruangan aku berdoa dan selalu
memikirkan wajah kedua orang tuaku. Selama 2 jam aku didalam ruangan ber- AC,
padahal ruangan dingin sekali tapi aku merasa masih panas. Mungkin karena efek
berfikir mengerjakan soal – soal ujian yang sangat banyak. Selama empat hari
aku ujian nasional, kegiatanku hanya penuh latihan soal dan belajar. Waktu mengatakan, sekarang
aku bebas dari berbagai ujian dan
menunggu tiba waktunya pengumuman kelulusan.
Berbeda
dengan yang lain sibuk merencanakan liburan, aku hanya terpaku menjadi
pendengar setia dari celotehan temanku. Dikantin sekolah, aku masih saja
memikirkannya betapa bodoh diri ini. “Ce, lu kenapa sih masih melamun terus,
ujian dah kelar nih. Gimana kita liburan bareng aja ke pantai atau ke danau?”
kata Alyn sembari meminum es. Tanpa menjawab persetujuanku. Mereka memutuskan,
akhir pekan ini kita ke danau aja. Aku hanya tersenyum pertanda setuju dengan ide mereka.
Tettt..tettt.. bel berbunyi pertanda ujian telah berakhir untuk kelas 12 boleh
pulang. Akhirnya kami pulang bersama dengan angkutan umum dan kembali kerumah
masing – masing.
Disaat keterpurukan, kamar menjadi tempat
yang sangat nyaman bagiku. Merebahkan diri diatas kasur sekilas memanjakan hati
yang lelah ditinggalkannya tanpa memberiku rambu untuk pergi tak kembali. Aku
mulai membiasakan diri menikmati rasa sakit di dada. Sedikitpun aku tak
membencinya, karna membenci akan membuatku sulit melupakannya.
Sembari menunggu
pengumuman, aku tak mau waktuku terbuang tanpa menghasilkan sesuatu. Aku orangnya tak bisa saja berdiam
diri dirumah. Ketika ada lowongan kerja, langsung saja aku melamarkan diri.
Mungkin dengan aku bekerja, aku bisa mengusir kesepian yang ada dalam hatiku
saat ini. Aku juga tak mau terus
melamunkan dia yang telah pergi.
Bekerja, alasan yang tepat untuk berhenti
memikirkannya. Suatu perusahaan milik negara, menerima ku sebagai account
officer. Alhamdulillah, ucap syukur
kepada Tuhan Yang Maha Esa aku diterima bekerja sekaligus ditempatkan di kota
kelahiran. Aku sangat menikmati pekerjaan itu, sampai aku tak pernah merasakan
kesepian dari status jomlo yang ku alami kala itu. Disana juga banyak hal baru yang aku dapatkan
dari rekan kerja. Dimulai dari pengalaman berpacaran, masakan, tempat wisata,
serta kebudayaan yang berbeda dari gaya bicara aku dapatkan semuanya dari mereka. Aku sangat
senang sekali, mendapatkan kehidupan baru dari mereka. Senyumku mulai
mengembang saat aku terbebas dari masa lalu yang merupakan penyakit ketika itu.
Dan sekarang dengan rekan
kerja baru, mereka memberiku banyak cerita yang sangat menarik aku geluti, ya
dunia kerja. Aku telah menginjak tahap wanita dewasa, harus menjadi wanita
karir yang cemerlang dan sukses. Itu impian saat itu, mungkin tak semudah aku
dapatkan. Banyak rintangan yang aku alami saat bekerja. Semua itu aku pasrahkan
kepada Tuhan sang pencipta. Tiap bulan, aku selalu memenuhi target yang
diminta. Aku bisa dikatakan staf yang baik kala itu. hehe..
Tiba waktu pengumuman kelulusan, mengatakan
bahwa aku lulus dengan nilai cukup baik, menurutku. Aku juga merasa sedih
ketika itu juga orang tua ku menyuruh berhenti bekerja. Perasaan sangat sedih
dan berat aku harus meninggalkan rekan – rekan kerja ku yang telah membantu mengusir
rasa kesepianku ketika itu. Pendidikan memang sangat penting bagiku, sehingga
aku putuskan untuk berhenti bekerja. Selama tiga bulan, aku bersama mereka yang
sangat baik mengajariku dengan sabar. Kini aku harus meninggalkan mereka demi
menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi, universitas.
Akhirnya aku kuliah diperguruan tinggi swasta
dikota ku, Universitas Abdurachman Saleh Situbondo. Aku menjadi mahasiswi yang
sangat aktif, seperti anak susu SGM saja diriku. Bagaimana tidak, sebagai
mahasiswi aku juga bekerja part time menjadi guru bimbel privat anak sekolah
dasar. Disamping itu aku juga aktif di unit kegiatan mahasiswa. Semua itu aku
lakukan untuk menjauhi rasa kesepian yang berstatus jomlo. Emang sih, jomlo
bukanlah hal yang sangat menakutkan bagiku. Tapi setidaknya dengan selalu menyibukkan
diri dengan berbagai kegiatan yang positif, hatiku merasa tak sendiri. Keadaan
lebih membaik dengan menjadi wanita yang sholeha dan berkarir demi orang tua,
itu merupakan impian harus aku perjuangan untuk mereka.
Yaaa.. sekarang dengan bangga penuh keberanian
ku lontarkan, “Aku seorang wanita jomlo, jomlo berkualitas yang takwa kepada
aturan dan menjauhi larangan-Nya. Dengan senyuman yang mengembang penuh arti
dan kemenangan melawan rasa kesepian.
No comments:
Post a Comment