Hujan Terakhir
oleh Aydiw
Ketika pagi diawali hujan yang menghantam seluruh permukaan
bumi. Aku berharap hari ini hujan turun dengan syahdu, membawa aroma tanah yang
kau sukai. Aku disini dan kau disana, dengan angin sepoi – sepoi yang membawaku
untuk selalu tersenyum meskipun hujan membasahi seragam sekolahku.
Seperti hari – hari sebelumnya, saat aku tiba
disekolah, aku selalu menerima pesan singkat dan romantis darimu. Hari ini
seperti Friday killer, saat aku membuka handphone yang ku genggam lalu ku buka
pesan darinya. “Entah apa salah aku?” Dikala hujan deras, tanpa sadar kau telah
menamparku dengan pesan singkat, “Kita Putus!!”. Tanpa aku membalas, rintik air
mulai bermuara membasahi pipiku. Hingga tangisanku terdengar mengalahkan hujan
diluar sana.
Diatas kursi aku sandarkan tubuh yang mulai lemas
dan mulai basah kuyup membasahi wajah dan
jilbabku. Aku tak mengerti kenapa hari ini hujan bersamaan dengan hujan
yang kau buat untukku.
“Kamu kenapa menangis sehebat hujan
seperti ini?” sahut Susi yang menghampiriku. “Aku Putus!” ujarku.
“Menangislah sederas – derasnya seperti hujan pagi
ini, lalu tertawa lah sebebas mungkin”. Kata Susi kembali sambil mengelus
pundakku.
Aku pun terus menangis bersaing mengalahkan hujan
yang semakin deras.
Ketika hujan mulai reda, aku berenjak dari kursi
menuju kamar mandi sekolah dan memikirkan perkataan Susi didepan cermin besar. “Apa
dia lelaki yang baik? Setelah sekian kisah yang aku habiskan bersamanya
berakhir dengan kata putus dan tanpa alasan apapun, Aneh! Dia lelaki berdusta,
pasti demi sayang”. Lalu aku usap air hujan yang dia berikan diwajah dengan
beberapa lembar tisu. Ini adalah hujan terakhir yang kau berikan untukku!
Sambil menjatuhkan bekas tisu ke sampah. Dan segera aku balik menuju kelas.
“Gimana masih sedih?”, goda Susi padaku.
“Apaan sih kamu. Aku bahagia kok”, sambil tersenyum
manis bak bunga mekar.
“Nah, gitu dong, ini baru sahabatku”, jawabnya.
“Terima Kasih ya, Susi. Kamu emang sahabat terbaik,
aku lebih baik sekarang. Dan aku merasa seperti dilahirkan kembali saat dia
mengatakan putus”, ujarku. Lalu Susi tersenyum dan memelukku dengan erat.
Mungkin memang sudah takdir kita
seperti ini, merasakan bahagia dalam bentuk yang berbeda. Kau bahagia dengan
cara meninggalkanku, dan aku bahagia saat bersamamu, kini kau bisa tertawa
bersamanya. Sedang disini aku masih menikmati luka.
Meski kini kau bukan lagi
penyemangatku tapi setidaknya masih ada satu hal yang membuatku untuk harus
bersemangat, yaitu menggapai mimpi.
No comments:
Post a Comment