Sunday, October 14, 2018

Fiksi Mini Hujan Terakhir



Hujan Terakhir
oleh Aydiw
Ketika pagi diawali hujan yang menghantam seluruh permukaan bumi. Aku berharap hari ini hujan turun dengan syahdu, membawa aroma tanah yang kau sukai. Aku disini dan kau disana, dengan angin sepoi – sepoi yang membawaku untuk selalu tersenyum meskipun hujan membasahi seragam sekolahku.
Seperti hari – hari sebelumnya, saat aku tiba disekolah, aku selalu menerima pesan singkat dan romantis darimu. Hari ini seperti Friday killer, saat aku membuka handphone yang ku genggam lalu ku buka pesan darinya. “Entah apa salah aku?” Dikala hujan deras, tanpa sadar kau telah menamparku dengan pesan singkat, “Kita Putus!!”. Tanpa aku membalas, rintik air mulai bermuara membasahi pipiku. Hingga tangisanku terdengar mengalahkan hujan diluar sana.
Diatas kursi aku sandarkan tubuh yang mulai lemas dan mulai basah kuyup membasahi wajah dan  jilbabku. Aku tak mengerti kenapa hari ini hujan bersamaan dengan hujan yang kau buat untukku.
“Kamu kenapa menangis sehebat hujan seperti ini?” sahut Susi yang menghampiriku. “Aku Putus!” ujarku.
“Menangislah sederas – derasnya seperti hujan pagi ini, lalu tertawa lah sebebas mungkin”. Kata Susi kembali sambil mengelus pundakku.
Aku pun terus menangis bersaing mengalahkan hujan yang semakin deras.
Ketika hujan mulai reda, aku berenjak dari kursi menuju kamar mandi sekolah dan memikirkan perkataan Susi didepan cermin besar. “Apa dia lelaki yang baik? Setelah sekian kisah yang aku habiskan bersamanya berakhir dengan kata putus dan tanpa alasan apapun, Aneh! Dia lelaki berdusta, pasti demi sayang”. Lalu aku usap air hujan yang dia berikan diwajah dengan beberapa lembar tisu. Ini adalah hujan terakhir yang kau berikan untukku! Sambil menjatuhkan bekas tisu ke sampah. Dan segera aku balik menuju kelas.
“Gimana masih sedih?”, goda Susi padaku.
“Apaan sih kamu. Aku bahagia kok”, sambil tersenyum manis bak bunga mekar.
“Nah, gitu dong, ini baru sahabatku”, jawabnya.
“Terima Kasih ya, Susi. Kamu emang sahabat terbaik, aku lebih baik sekarang. Dan aku merasa seperti dilahirkan kembali saat dia mengatakan putus”, ujarku. Lalu Susi tersenyum dan memelukku dengan erat.
            Mungkin memang sudah takdir kita seperti ini, merasakan bahagia dalam bentuk yang berbeda. Kau bahagia dengan cara meninggalkanku, dan aku bahagia saat bersamamu, kini kau bisa tertawa bersamanya. Sedang disini aku masih menikmati luka.
            Meski kini kau bukan lagi penyemangatku tapi setidaknya masih ada satu hal yang membuatku untuk harus bersemangat, yaitu menggapai mimpi.

No comments:

Post a Comment

Cerpen untuk Ayah

Demi Gelar Sarjana untuk Ayah “Aydiw” Kringg..kringgg..kringg Suara ponsel berdering keras mengusik ke ramaian ruangan kerja, ternya...