Demi Gelar Sarjana untuk Ayah
“Aydiw”
Kringg..kringgg..kringg
Suara
ponsel berdering keras mengusik ke ramaian ruangan kerja, ternyata Kak Novi
menelponku.
“Assalamualaikum, ada apa kak? Sahut Kyara.
“Waalaikumsalam, hari ini gimana hasil SBMPTN nya?”. Aku terdiam, tidak
menjawab. “Kyaraa.. bagaimana hasilnya? Sambung Kak Novi lagi. “Tidak Lolos,
Kak” dengan suara datar. “Sabar aja ya, suatu saat akan ada rejeki lain, tetap
semangat”, nasihat Kak Novi. “Tolong sampaikan sama ayah, Kak”, pinta Kyara.
“Nanti kakak sampaikan, sambung nanti lagi yaa...” tututttttt telponnya
dimatikan.
Aku
bernama Kyara lulusan sekolah menengah kejuruan tahun 2017. Sebelum ijazah keluar
aku singgah di kota Tape bersama sahabatku, aku melamar kerja diperusahaan BUMN
yang baru dibuka, bersama beberapa sahabatku. Kiki dan Ayu tidak di satu
cabang, kami bertiga bertekad bulat untuk bekerja untuk bekal masuk perguruan
tinggi. Tapi keadaan menentangku untuk tidak masuk perguruan tinggi negeri yang
aku impikan, gagal SNMPTN dan SBMPTN bukan masalah yang sepele menurutku.
Kekacauan melanda pikiran, kerja pun kurang bersemangat saat portal SBMPTN
menendang ku untuk move on dari perguruan tinggi negeri.
“Sudah
lupakan saja, mungkin kamu ditakdirkan untuk bekerja bukan kuliah saat ini”,
ucap Reni rekan kerja. “Bener sih, tapi itu impian ayah”, ucap Kyara senyumnya
menciut. “Sudah, berangkat yuk!!” sambung Reni lagi sambil menghidupkan motor
kantor.
Reni
menyalakan motor dan membawa aku pergi mencari nasabah, salah satu tugas
sebagai Account Officer (AO). Ini rutinitas selepas putih abu – abu. Mencari
nasabah ibu – ibu yang sedang buka usaha atau yang akan membuka usaha untuk
kalangan keluarga prasejahtera. Terik panas matahari tak membuat aku menyerah
mendapatkan nasabah, bayangkan saja 60 orang nasabah yang harus aku kantongi
selama 1 bulan. Aku tidak percaya apa mampu dalam sebulan mengumpulkan nasabah
yang terbilang banyak menurutku, terlebih lagi ini pengalaman pertama menginjak
dunia kerja.
Sehabis
sosialisasi ke ibu – ibu di desa, kami sangat berharap ada yang minat. Tak lupa
selembar kertas yang juga berisi nomor telepon kami berikan kepada mereka. Dari
desa ke desa Kecamatan Cermee kami
hampiri semua, belum ada yang menghubungi kami hari itu. Hingga waktu petang
kami tak kunjung ada panggilan masuk. Akhirnya, kami berdua memutuskan untuk
balik ke mess (rumah dinas).
Saat
sore, secangkir susu hangat menemani istirahat di mess sembari melepas penat
pikiran yang selalu terlintas. “Apa aku tidak kuliah tahun ini? Aku sangat
bersalah, tidak bisa mendapatkan beasiswa sesuai keinginan ayah”, teriak
hatiku.
“Masih
melamun aja nih, keluar yuk cari makan?” Ajak Reni sambil meminum susu hangat
punyaku. “Hey!!! Itu punyaku.” Teriak Kyara dengan keras pertanda marah ke
Reni. “Hehe.. maaf deh, jangan marah. Jangan melamun terus dong, makan yuk
perutku sudah merengek minta isi nih”, Ucap Reni sambil memegang perutnya. “Hmm,
okedeh sebentar ya”, Kyara langsung mengambil dompet ditasnya.
Akhirnya
kami berdua keluar jalan kaki mencari makan untuk mengisi rasa lapar. Kami
kemana – mana selalu bersama, kerja, makan, hingga mandi sekalipun. Kita
seperti dua sejoli yang tak terpisahkan, aku mengenal Reni saat beberapa hari
yang lalu. Dia karyawan baru, baru bergabung maksudku. Melihat ada pedagang Mie
Ayam kami langsung memesan 2 mangkok beserta teh hangat.
“Raa, masih sedih ya? Tanya Reni. “Iyalah”.
Jawab Kyara dengan wajah cemberut. “Jangan moyong gitu kali mulutnya kayak
bebek”, ejek Reni sambil ketawa terbahak – bahak. “Eh.. sembarangan kalo
ngomong” cetus Kyara sambil menyenggol Reni. “Ahahaa.. santai aja kali hidup
ini masih panjang, bahkan melebihi jalan tol”, balas Reni.
Tak
lama pesanan kami telah datang, kami langsung menikmati mie ayam yang masih
hangat. Mie ayam disini terkenal enak murah, wajar saja disini pedesaan, jadi
kalo mahal mana ada yang beli. Habis makan kami tak lupa membayarnya dan kami
pulang menuju mess lagi untuk istirahat.
***
Esoknya
seperti biasa, aku bekerja fokus mencari nasabah bersama rekan kerja, Reni
lagi. Sebenarnya dia juga sama sepertiku, tidak lolos daftar TNI, ya bekerja
adalah pelarian buat kami. Kami bekerja hanya mengisi waktu sejenak melupakan
kegagalan dengan mengais sesuap nasi di kota orang. Kami berdua setiap hari
mengelilingi desa, naik gunung turun gunung bukan hobi kami sebenarnya, tapi
kewajiban untuk mencari nasabah yang terbilang sangat menantang adrenalin.
Tidak perduli keadaan, hujan dan terik panas matahari kami terus berusaha biar
bisa mengantongi beberapa nasabah.
Benar kata pepatah, hasil tidak akan
menghkianati hasil, telepon genggam kami berbunyi tiada henti. Ternyata banyak
nasabah yang tertarik untuk meminjam dana diperusahaan tempat aku bekerja.
Alhamdulillah, sebulan bisa mengantongi 60 nasabah, sesuai target. Berbagai persyaratan
telah dipenuhi nasabah hingga memakan waktu yang cukup lama. Tiba diwaktu
pencairan pertamaku bekerja, ucapku tiada henti untuk bersyukur.
Kegiatan dan
tanggung jawabku bertambah seiringnya waktu menjawab usahaku.
Kringg..krinnggg
dering suara dari ponselku saat istirahat ternyata ayahku. “Assalamualaikum
ayah” ucapku. “Waalaikum salam. Kyara berhenti kerja saja ya, nanti kuliahnya
di pts disini (kota tinggalku) Ayah bisa membiayainya. Tawar ayah”. “Bener ya
ayah? Jawab Kyra dengan girang. “Minggu ini pulang ya, nanti kak Novi yang
jemput di mess. Ya sudah jangan lupa makan, Nak. Assalamualaikum”. Ayah menutup
teleponnya. “Waalaikum salam...”
Habis
menutup teleponnya, aku langsung mengajukan resign kepada kepala cabang,
menceritakan semua yang ayah perintahkan. Sebenarnya ada rasa senang dan sedih.
Senang aku bisa kuliah dan sedih karena harus meninggalkan Reni. Sama seperti
yang aku rasakan, Reni pun keberatan dengan keputusan resign yang aku ajukan. Tapi
aku meyakinkan Reni, bahwa kita masih berteman meski dibeda daerah. Kami saling
berjanji untuk tetap berteman.
Genap
sebulan bekerja. Waktu yang ditunggu telah menjemputku, minggu aku berpamitan
kepada mereka semua dan kak Novi telah menungguku diluar mess. “Sedih sih harus
berpisah dengan kalian, tapi kalian jangan melupakan aku yaa.. Aku hanya
berhenti bekerja, bukan berarti aku berhenti berteman dengan kalian. Aku pamit
teman – teman”. Kata terakhir yang aku ucapkan kepada mereka. Dan akhirnya aku
pulang bersama kak Novi.
***
Dikota
Tinggalku.
Ternyata
segala persyaratan masuk pts telah diurus oleh kak Novi. Aku masih tidak
percaya, aku kuliah. Entah duit dari mana ayah dapatkan untuk membayar uang
daftar ulang kuliah. Mengingat ayah sudah lama tidak bekerja karena telah
pensiun dan keadaannya masih belum sehat total selepas kecelakaan saat
menjemput adik sekolah dulu. Kesempatan ini tidak mungkin aku sia – siakan,
kuliah memang salah satu cita – cita tepatnya di perguruan tinggi negeri, mauku.
Tapi waktu menolak, aku tidak bisa memaksakan kehendak, apalagi dengan keadaan
ekonomi keluarga yang merosot. Kuliah diperguruan tinggi swasta mungkin
penolongku untuk melanjutkan impian, ya impian menjadi dosen. Dengan lapang
dada, aku resmi diterima universitas swasta dengan prodi manajemen. Memilih
manajemen sebenarnya bukan kemauan dari hati. Memang disana untuk fakultas
ekonomi hanya manajemen.
Tiba
saatnya ospek, aku masih saja tidak menyangka bisa kuliah, mendapatkan banyak
temen baru, sangat seru menurutku. Hingga kami pun berbagi pengalaman mengenai
tes perguruan tinggi, masa – masa sekolah, dll. Selepas ospek, minggu depan
sudah kuliah perdana. Aku senang sekali saat itu, tapi aku memilih kelas sore.
Alasannya, pertama tidak punya motor, jadi harus menunggu kak Novi pulang kerja
dulu baru bisa pakai motornya. Kedua, lagi cari kerja part time hitung hitung
bisa beli kebutuhan kuliah sendiri.
Selama
hari – hari kuliah, aku tak pernah berteman dengan kata “Terlambat, Telat”. Ini
sebagai bukti keseriusan kuliah pada ayah, tapi disamping sibuk kuliah,
bergabung UKM Penalaran adalah tujuan awal untuk mencari beasiswa. Pikirku, belajar
menulis salah satu yang dibutuhkan untuk melengkapi persyaratan beasiswa.
Disamping belajar dengan sungguh – sungguh untuk mempersiapkan nilai akademik
yang baik. Diluar kuliah juga mengikuti berbagai kegiatan seperti mengikuti
lomba kepenulisan, untuk menunjang prestasi jika ada beasiswa.
Kerja
part time juga aku lakukan, menjadi guru privat anak SD. Memang bekerja sambil
kuliah ditambah dengan aktif diorganisasi kampus bukan hal yang mudah untuk
mendapatkan nilai yang baik. Tapi berkat dukungan dan doa restu kedua orang
tua, nilai akademik semester satu 4,00.
Menginjak
semester dua, telinga mulai panas mendengar masalah keuangan ekonomi yang
semakin hari menurun. Tambah lagi ditagih uang kuliah semakin kacau pikiran.
Meski telah kerja part time, gaji tidak cukup untuk membayar. Semangat
mempertahankan kuliah semakin membara. Tiap hari dengan ponsel jadulku, aku
menelusuri beasiswa yang sedang dibuka untuk mahasiswa on going sepertiku.
Bahkan tidak ada satupun yang sedang dibuka, sedih dan terancam tidak kuliah,
adalah masalah terberat. Ujian hidup terus mengalir padaku ditambah roda
kehidupan keluargaku berada dititik terbawah. Berdoa selalu terucap dibibir ini
untuk menuntaskan kuliah demi keinginan ayah.
***
Tuing
...
Handphone
berbunyi, ternyata grup whatsapp UKM Penalaran ada yang share mengenai beasiswa
untuk mahasiswa on going sepertiku. Alhamdulillah, ucapku. Langsung saja aku
kunjungi websitenya untuk mencari informasi lebih lanjut. Ternyata salah satu momok
bagiku, proposal dan essay. Belum pernah pengalaman membuat, apalagi masih baru
saja terjun didunia kepenulisan.
Keesokannya
langsung saja dengan meminjam motor punya Kak Novi, aku mengurusi semua
persyaratan di kampus. Berjam – jam menunggu dekan, rela aku lakukan demi
sebuah tanda tangan darinya. Bekerja pun aku minta cuti. Selesai persyaratan
dikampus, perpustakaan daerahlah menjadi penolongku, mengetik esay dan
proposal. Maklum saja laptop tidak punya. Berhari – hari aku nongkong diperpus
bahkan sampai lupa makan. Demi melengkapi persyaratan beasiswa yang sangat aku
inginkan.
Waktu
terus mengejar, deadline semakin mendekat, dua hari sebelum ditutup aku pergi
lagi ke perpustakaan daerah untuk mengupload semua berkas yang dibutuhkan.
Dengan jaringat internet yang sangat cepat, tidak ada masalah yang menghambat,
menambah keyakinanku bahwa aku bisa lolos. Selepas dari perpustakaan daerah,
aku bilang ke ayah kalo aku baru saja mendaftar beasiswa, yang nantinya jika
lolos harus ke ibukota provinsi. Disitu ayah bingung, bagaimana jika lolos ,
ayah belum ada uang. Aku berdoa, semoga ada rejeki untuk bisa berangkat jika
lolos administrasi.
***
Sebulan
kemudian, aku dinyatakan lolos seleksi, betapa gembiranya hatiku. Mengingat
banyak persyaratan yang sangat menguras waktu untuk kerja dan beristirahat.
“Kyara lolos seleksi, dan minggu depan harus wawancara. Bagaimana apa ada uang,
yah?” ucap ku kegirangan. “Iya ada” sahut ayah. Sempat aku pikirkan, uang
darimana ayah dapatkan untuk aku wawancara. Padahal bulan lalu belum terbayar
uang kuliah.
Siang
itu, langsung saja aku berangkat menyewa travel untuk minggu depan. Dan tak
lupa juga bekerja part time sekaligus meminta untuk izin cuti lagi. Saat
kuliah, aku juga mengabarkan kepada staf kampus bahwasannya aku lolos untuk
seleksi pertama. Pulang kuliah aku tak lupa mempersiapkan lagi beberapa berkas
yang harus dibawa. Berkali – kali aku periksa, supaya tidak ada yang
ketinggalan.
***
Tiba
waktu yang ditunggu, aku berangkat wawancara sendirian, padahal aku ingin
sekali ditemani ayah. Kondisi ayah yang sangat tidak memungkinkan menahan
keinginanku. Selama 7 jam perjalanan, aku menangis, berdoa, semoga bisa
memenuhi keinginan ayah dan ibu untuk bisa mendapatkan beasiswa untuk
melanjutkan kuliah sarjana strata 1. Tiba disana, serasa bermimpi dari kota
yang terpencil bisa bersaing dengan mahasiswa perguruan tinggi yang ternama.
Bangga dan tidak gengsi bisa membawa nama perguruan tinggi yang aku tempuh saat
ini. Sela – sela menunggu giliran, aku berkenalaan dengan teman dari perguruan
tinggi yang ternama. Mereka sangat baik, dan berbincang – bincang berbagi
pengalaman mereka mengumpulkan berbagai persyaratan.
Waktu
silih berganti, aku dipanggil. Memasuki ruangan rasa dinginnya AC tidak mempan,
bahkan masih terasa panas. Ibu pewawancara menyuruhku untuk rileks dan tarif
nafas. Setelahnya wawancara kami laksanakan, dari perkenalan, keluarga,
keinginan selepas lulus S1 semua ku lontarkan dengan sesuai keadaan. Mungkin 30
menit telah berlalu dan aku meninggalkan ruangan yang terasa panas menurutku.
Habis tes wawancara aku langsung menelpon ayah, dan memberitahukan bahwa aku
akan segera pulang. Berjam – jam aku menunggu hingga larut malampun travel yang
aku pesan masih belum menjemputku. Aku menelpon ayah dan aku menangis, karena
sendiri dikota orang dan tidak ada teman satupun itu rasanya sangat
menyedihkan. Setengah jam kemudian aku dijemput selama perjalanan sangat
berkesan menurutku. Hingga aku tertidur lelap tanpa sadar telah sampai dirumah.
***
Seminggu
kemudian, aku dinyatakan lolos dan sebagai penerima beasiswa. Mendengar kabar
bahagia itu ayah dan ibu tersenyum mengembang bak bunga mekar. Lusanya aku
berangkat lagi untuk tanda tangan kontrak. Alhamdulillah ada gaji dari bekerja
jadi cukup untuk pulang pergi. Seharian aku dikota orang dan numpang di kost
sahabatku, untuk mandi sejenak. Dia bernama Idzi, teman ku saat SMP dan kuliah
disini. Dia juga mengantarku ketempat aku tanda tangan kontrak. Tanpa dia
mungkin aku sendirian lagi.
Sesampai
di hotel yang dipilih untuk tanda tangan, Idzi langsung pergi meninggalkanku
karena dia ada jam kuliah. Acara demi acara dilalui, hingga selesai tanda
tangan kontrak, aku menelpon ayah lagi. Memberi kabar baik ke ayah bahwa telah
selesai tanda tangan kontrak dan akan pulang dengan mobil travel yang telah
menjemputku didepan hotel.
Selama
perjalanan pulang, aku tertidur pulas, hingga sampai dirumah ayah dan ibu
menyambutku. Sekarang dengan bangganya aku bilang kepada ayah dan ibu, “Uang
kuliah sekarang aku bayar sendiri hingga lulus dan biaya hidup ditanggung”
lontarku. Mereka bangga padaku, karena
tidak pernah putus asa mencapai keinginan. Padahal semua ini aku lakukan
terutama demi ayah, biar ayah sembuh dan bisa melihat anaknya menyandang gelar
sarjana. Sesuai cita – cita ayah, “Anak ayah harus sarjana”. (Situbondo, 10 November 2018)
No comments:
Post a Comment