Monday, December 10, 2018

Cerpen untuk Ayah


Demi Gelar Sarjana untuk Ayah
“Aydiw”
Kringg..kringgg..kringg
Suara ponsel berdering keras mengusik ke ramaian ruangan kerja, ternyata Kak Novi menelponku.
 “Assalamualaikum, ada apa kak? Sahut Kyara. “Waalaikumsalam, hari ini gimana hasil SBMPTN nya?”. Aku terdiam, tidak menjawab. “Kyaraa.. bagaimana hasilnya? Sambung Kak Novi lagi. “Tidak Lolos, Kak” dengan suara datar. “Sabar aja ya, suatu saat akan ada rejeki lain, tetap semangat”, nasihat Kak Novi. “Tolong sampaikan sama ayah, Kak”, pinta Kyara. “Nanti kakak sampaikan, sambung nanti lagi yaa...” tututttttt telponnya dimatikan.
Aku bernama Kyara lulusan sekolah menengah kejuruan tahun 2017. Sebelum ijazah keluar aku singgah di kota Tape bersama sahabatku, aku melamar kerja diperusahaan BUMN yang baru dibuka, bersama beberapa sahabatku. Kiki dan Ayu tidak di satu cabang, kami bertiga bertekad bulat untuk bekerja untuk bekal masuk perguruan tinggi. Tapi keadaan menentangku untuk tidak masuk perguruan tinggi negeri yang aku impikan, gagal SNMPTN dan SBMPTN bukan masalah yang sepele menurutku. Kekacauan melanda pikiran, kerja pun kurang bersemangat saat portal SBMPTN menendang ku untuk move on dari perguruan tinggi negeri.
“Sudah lupakan saja, mungkin kamu ditakdirkan untuk bekerja bukan kuliah saat ini”, ucap Reni rekan kerja. “Bener sih, tapi itu impian ayah”, ucap Kyara senyumnya menciut. “Sudah, berangkat yuk!!” sambung Reni lagi sambil menghidupkan motor kantor.
Reni menyalakan motor dan membawa aku pergi mencari nasabah, salah satu tugas sebagai Account Officer (AO). Ini rutinitas selepas putih abu – abu. Mencari nasabah ibu – ibu yang sedang buka usaha atau yang akan membuka usaha untuk kalangan keluarga prasejahtera. Terik panas matahari tak membuat aku menyerah mendapatkan nasabah, bayangkan saja 60 orang nasabah yang harus aku kantongi selama 1 bulan. Aku tidak percaya apa mampu dalam sebulan mengumpulkan nasabah yang terbilang banyak menurutku, terlebih lagi ini pengalaman pertama menginjak dunia kerja.
Sehabis sosialisasi ke ibu – ibu di desa, kami sangat berharap ada yang minat. Tak lupa selembar kertas yang juga berisi nomor telepon kami berikan kepada mereka. Dari desa  ke desa Kecamatan Cermee kami hampiri semua, belum ada yang menghubungi kami hari itu. Hingga waktu petang kami tak kunjung ada panggilan masuk. Akhirnya, kami berdua memutuskan untuk balik ke mess (rumah dinas).
Saat sore, secangkir susu hangat menemani istirahat di mess sembari melepas penat pikiran yang selalu terlintas. “Apa aku tidak kuliah tahun ini? Aku sangat bersalah, tidak bisa mendapatkan beasiswa sesuai keinginan ayah”, teriak hatiku.
“Masih melamun aja nih, keluar yuk cari makan?” Ajak Reni sambil meminum susu hangat punyaku. “Hey!!! Itu punyaku.” Teriak Kyara dengan keras pertanda marah ke Reni. “Hehe.. maaf deh, jangan marah. Jangan melamun terus dong, makan yuk perutku sudah merengek minta isi nih”, Ucap Reni sambil memegang perutnya. “Hmm, okedeh sebentar ya”, Kyara langsung mengambil dompet ditasnya.
Akhirnya kami berdua keluar jalan kaki mencari makan untuk mengisi rasa lapar. Kami kemana – mana selalu bersama, kerja, makan, hingga mandi sekalipun. Kita seperti dua sejoli yang tak terpisahkan, aku mengenal Reni saat beberapa hari yang lalu. Dia karyawan baru, baru bergabung maksudku. Melihat ada pedagang Mie Ayam kami langsung memesan 2 mangkok beserta teh hangat.
 “Raa, masih sedih ya? Tanya Reni. “Iyalah”. Jawab Kyara dengan wajah cemberut. “Jangan moyong gitu kali mulutnya kayak bebek”, ejek Reni sambil ketawa terbahak – bahak. “Eh.. sembarangan kalo ngomong” cetus Kyara sambil menyenggol Reni. “Ahahaa.. santai aja kali hidup ini masih panjang, bahkan melebihi jalan tol”, balas Reni.
Tak lama pesanan kami telah datang, kami langsung menikmati mie ayam yang masih hangat. Mie ayam disini terkenal enak murah, wajar saja disini pedesaan, jadi kalo mahal mana ada yang beli. Habis makan kami tak lupa membayarnya dan kami pulang menuju mess lagi untuk istirahat.
***
Esoknya seperti biasa, aku bekerja fokus mencari nasabah bersama rekan kerja, Reni lagi. Sebenarnya dia juga sama sepertiku, tidak lolos daftar TNI, ya bekerja adalah pelarian buat kami. Kami bekerja hanya mengisi waktu sejenak melupakan kegagalan dengan mengais sesuap nasi di kota orang. Kami berdua setiap hari mengelilingi desa, naik gunung turun gunung bukan hobi kami sebenarnya, tapi kewajiban untuk mencari nasabah yang terbilang sangat menantang adrenalin. Tidak perduli keadaan, hujan dan terik panas matahari kami terus berusaha biar bisa mengantongi beberapa nasabah.
            Benar kata pepatah, hasil tidak akan menghkianati hasil, telepon genggam kami berbunyi tiada henti. Ternyata banyak nasabah yang tertarik untuk meminjam dana diperusahaan tempat aku bekerja. Alhamdulillah, sebulan bisa mengantongi 60 nasabah, sesuai target. Berbagai persyaratan telah dipenuhi nasabah hingga memakan waktu yang cukup lama. Tiba diwaktu pencairan pertamaku bekerja, ucapku tiada henti untuk bersyukur.
Kegiatan dan tanggung jawabku bertambah seiringnya waktu menjawab usahaku.
Kringg..krinnggg dering suara dari ponselku saat istirahat ternyata ayahku. “Assalamualaikum ayah” ucapku. “Waalaikum salam. Kyara berhenti kerja saja ya, nanti kuliahnya di pts disini (kota tinggalku) Ayah bisa membiayainya. Tawar ayah”. “Bener ya ayah? Jawab Kyra dengan girang. “Minggu ini pulang ya, nanti kak Novi yang jemput di mess. Ya sudah jangan lupa makan, Nak. Assalamualaikum”. Ayah menutup teleponnya. “Waalaikum salam...”
Habis menutup teleponnya, aku langsung mengajukan resign kepada kepala cabang, menceritakan semua yang ayah perintahkan. Sebenarnya ada rasa senang dan sedih. Senang aku bisa kuliah dan sedih karena harus meninggalkan Reni. Sama seperti yang aku rasakan, Reni pun keberatan dengan keputusan resign yang aku ajukan. Tapi aku meyakinkan Reni, bahwa kita masih berteman meski dibeda daerah. Kami saling berjanji untuk tetap berteman.
Genap sebulan bekerja. Waktu yang ditunggu telah menjemputku, minggu aku berpamitan kepada mereka semua dan kak Novi telah menungguku diluar mess. “Sedih sih harus berpisah dengan kalian, tapi kalian jangan melupakan aku yaa.. Aku hanya berhenti bekerja, bukan berarti aku berhenti berteman dengan kalian. Aku pamit teman – teman”. Kata terakhir yang aku ucapkan kepada mereka. Dan akhirnya aku pulang bersama kak Novi.
***
Dikota Tinggalku.
Ternyata segala persyaratan masuk pts telah diurus oleh kak Novi. Aku masih tidak percaya, aku kuliah. Entah duit dari mana ayah dapatkan untuk membayar uang daftar ulang kuliah. Mengingat ayah sudah lama tidak bekerja karena telah pensiun dan keadaannya masih belum sehat total selepas kecelakaan saat menjemput adik sekolah dulu. Kesempatan ini tidak mungkin aku sia – siakan, kuliah memang salah satu cita – cita tepatnya di perguruan tinggi negeri, mauku. Tapi waktu menolak, aku tidak bisa memaksakan kehendak, apalagi dengan keadaan ekonomi keluarga yang merosot. Kuliah diperguruan tinggi swasta mungkin penolongku untuk melanjutkan impian, ya impian menjadi dosen. Dengan lapang dada, aku resmi diterima universitas swasta dengan prodi manajemen. Memilih manajemen sebenarnya bukan kemauan dari hati. Memang disana untuk fakultas ekonomi hanya manajemen.
Tiba saatnya ospek, aku masih saja tidak menyangka bisa kuliah, mendapatkan banyak temen baru, sangat seru menurutku. Hingga kami pun berbagi pengalaman mengenai tes perguruan tinggi, masa – masa sekolah, dll. Selepas ospek, minggu depan sudah kuliah perdana. Aku senang sekali saat itu, tapi aku memilih kelas sore. Alasannya, pertama tidak punya motor, jadi harus menunggu kak Novi pulang kerja dulu baru bisa pakai motornya. Kedua, lagi cari kerja part time hitung hitung bisa beli kebutuhan kuliah sendiri.
Selama hari – hari kuliah, aku tak pernah berteman dengan kata “Terlambat, Telat”. Ini sebagai bukti keseriusan kuliah pada ayah, tapi disamping sibuk kuliah, bergabung UKM Penalaran adalah tujuan awal untuk mencari beasiswa. Pikirku, belajar menulis salah satu yang dibutuhkan untuk melengkapi persyaratan beasiswa. Disamping belajar dengan sungguh – sungguh untuk mempersiapkan nilai akademik yang baik. Diluar kuliah juga mengikuti berbagai kegiatan seperti mengikuti lomba kepenulisan, untuk menunjang prestasi jika ada beasiswa.
Kerja part time juga aku lakukan, menjadi guru privat anak SD. Memang bekerja sambil kuliah ditambah dengan aktif diorganisasi kampus bukan hal yang mudah untuk mendapatkan nilai yang baik. Tapi berkat dukungan dan doa restu kedua orang tua, nilai akademik semester satu 4,00.
Menginjak semester dua, telinga mulai panas mendengar masalah keuangan ekonomi yang semakin hari menurun. Tambah lagi ditagih uang kuliah semakin kacau pikiran. Meski telah kerja part time, gaji tidak cukup untuk membayar. Semangat mempertahankan kuliah semakin membara. Tiap hari dengan ponsel jadulku, aku menelusuri beasiswa yang sedang dibuka untuk mahasiswa on going sepertiku. Bahkan tidak ada satupun yang sedang dibuka, sedih dan terancam tidak kuliah, adalah masalah terberat. Ujian hidup terus mengalir padaku ditambah roda kehidupan keluargaku berada dititik terbawah. Berdoa selalu terucap dibibir ini untuk menuntaskan kuliah demi keinginan ayah.
***
Tuing ...
Handphone berbunyi, ternyata grup whatsapp UKM Penalaran ada yang share mengenai beasiswa untuk mahasiswa on going sepertiku. Alhamdulillah, ucapku. Langsung saja aku kunjungi websitenya untuk mencari informasi lebih lanjut. Ternyata salah satu momok bagiku, proposal dan essay. Belum pernah pengalaman membuat, apalagi masih baru saja terjun didunia kepenulisan.
Keesokannya langsung saja dengan meminjam motor punya Kak Novi, aku mengurusi semua persyaratan di kampus. Berjam – jam menunggu dekan, rela aku lakukan demi sebuah tanda tangan darinya. Bekerja pun aku minta cuti. Selesai persyaratan dikampus, perpustakaan daerahlah menjadi penolongku, mengetik esay dan proposal. Maklum saja laptop tidak punya. Berhari – hari aku nongkong diperpus bahkan sampai lupa makan. Demi melengkapi persyaratan beasiswa yang sangat aku inginkan.
Waktu terus mengejar, deadline semakin mendekat, dua hari sebelum ditutup aku pergi lagi ke perpustakaan daerah untuk mengupload semua berkas yang dibutuhkan. Dengan jaringat internet yang sangat cepat, tidak ada masalah yang menghambat, menambah keyakinanku bahwa aku bisa lolos. Selepas dari perpustakaan daerah, aku bilang ke ayah kalo aku baru saja mendaftar beasiswa, yang nantinya jika lolos harus ke ibukota provinsi. Disitu ayah bingung, bagaimana jika lolos , ayah belum ada uang. Aku berdoa, semoga ada rejeki untuk bisa berangkat jika lolos administrasi.
***
Sebulan kemudian, aku dinyatakan lolos seleksi, betapa gembiranya hatiku. Mengingat banyak persyaratan yang sangat menguras waktu untuk kerja dan beristirahat. “Kyara lolos seleksi, dan minggu depan harus wawancara. Bagaimana apa ada uang, yah?” ucap ku kegirangan. “Iya ada” sahut ayah. Sempat aku pikirkan, uang darimana ayah dapatkan untuk aku wawancara. Padahal bulan lalu belum terbayar uang kuliah.
Siang itu, langsung saja aku berangkat menyewa travel untuk minggu depan. Dan tak lupa juga bekerja part time sekaligus meminta untuk izin cuti lagi. Saat kuliah, aku juga mengabarkan kepada staf kampus bahwasannya aku lolos untuk seleksi pertama. Pulang kuliah aku tak lupa mempersiapkan lagi beberapa berkas yang harus dibawa. Berkali – kali aku periksa, supaya tidak ada yang ketinggalan.
***
Tiba waktu yang ditunggu, aku berangkat wawancara sendirian, padahal aku ingin sekali ditemani ayah. Kondisi ayah yang sangat tidak memungkinkan menahan keinginanku. Selama 7 jam perjalanan, aku menangis, berdoa, semoga bisa memenuhi keinginan ayah dan ibu untuk bisa mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah sarjana strata 1. Tiba disana, serasa bermimpi dari kota yang terpencil bisa bersaing dengan mahasiswa perguruan tinggi yang ternama. Bangga dan tidak gengsi bisa membawa nama perguruan tinggi yang aku tempuh saat ini. Sela – sela menunggu giliran, aku berkenalaan dengan teman dari perguruan tinggi yang ternama. Mereka sangat baik, dan berbincang – bincang berbagi pengalaman mereka mengumpulkan berbagai persyaratan.
Waktu silih berganti, aku dipanggil. Memasuki ruangan rasa dinginnya AC tidak mempan, bahkan masih terasa panas. Ibu pewawancara menyuruhku untuk rileks dan tarif nafas. Setelahnya wawancara kami laksanakan, dari perkenalan, keluarga, keinginan selepas lulus S1 semua ku lontarkan dengan sesuai keadaan. Mungkin 30 menit telah berlalu dan aku meninggalkan ruangan yang terasa panas menurutku. Habis tes wawancara aku langsung menelpon ayah, dan memberitahukan bahwa aku akan segera pulang. Berjam – jam aku menunggu hingga larut malampun travel yang aku pesan masih belum menjemputku. Aku menelpon ayah dan aku menangis, karena sendiri dikota orang dan tidak ada teman satupun itu rasanya sangat menyedihkan. Setengah jam kemudian aku dijemput selama perjalanan sangat berkesan menurutku. Hingga aku tertidur lelap tanpa sadar telah sampai dirumah.
***
Seminggu kemudian, aku dinyatakan lolos dan sebagai penerima beasiswa. Mendengar kabar bahagia itu ayah dan ibu tersenyum mengembang bak bunga mekar. Lusanya aku berangkat lagi untuk tanda tangan kontrak. Alhamdulillah ada gaji dari bekerja jadi cukup untuk pulang pergi. Seharian aku dikota orang dan numpang di kost sahabatku, untuk mandi sejenak. Dia bernama Idzi, teman ku saat SMP dan kuliah disini. Dia juga mengantarku ketempat aku tanda tangan kontrak. Tanpa dia mungkin aku sendirian lagi.
Sesampai di hotel yang dipilih untuk tanda tangan, Idzi langsung pergi meninggalkanku karena dia ada jam kuliah. Acara demi acara dilalui, hingga selesai tanda tangan kontrak, aku menelpon ayah lagi. Memberi kabar baik ke ayah bahwa telah selesai tanda tangan kontrak dan akan pulang dengan mobil travel yang telah menjemputku didepan hotel.
Selama perjalanan pulang, aku tertidur pulas, hingga sampai dirumah ayah dan ibu menyambutku. Sekarang dengan bangganya aku bilang kepada ayah dan ibu, “Uang kuliah sekarang aku bayar sendiri hingga lulus dan biaya hidup ditanggung” lontarku.  Mereka bangga padaku, karena tidak pernah putus asa mencapai keinginan. Padahal semua ini aku lakukan terutama demi ayah, biar ayah sembuh dan bisa melihat anaknya menyandang gelar sarjana. Sesuai cita – cita ayah, “Anak ayah harus sarjana”.   (Situbondo, 10 November 2018)

No comments:

Post a Comment

Cerpen untuk Ayah

Demi Gelar Sarjana untuk Ayah “Aydiw” Kringg..kringgg..kringg Suara ponsel berdering keras mengusik ke ramaian ruangan kerja, ternya...