JEJAK KEBAIKAN
Oleh Widya Tri Mauliyana
Dorrr....
Doorr.. Suara pistol yang keras membuat para binatang pergi berhamburan
melarikan diri.
Semua binatang dihutan
semakin panik. Sang gajah berlari sekencang - kencangnya hingga terperangkap di
jaring pemburu. Badan gajah yang kekar tak bisa mengalahkan jaring yang melekat
pada tubuhnya. Keadaan hutan pun semakin
kacau akibat ulah pemburu tak berhati itu.
Tikus
- tikus pun keluar berhamburan tanpa dipandu. Salah satu tikus kecil yang
berlari ikut terperangkap dijaring pemburu bersama gajah.
"Tolong - tolong... ", teriak keras Cito.
"Hei,
buat apa berteriak? Nyawa kita semakin terancam". Ujar Dito sang gajah.
"Terus
bagaimana kita keluar dari jaring ini?", tegas Cito.
"Pakai
gigimu lah kan tajam", ide
Dito.
Kemudian
Cito langsung menggerogoti jaring yang menimpa badannya. Alhasil Cito bebas,
dan berlari.
"Heii, tikus kecil tolong
aku lah",dengan wajah memohon.
"Tidakkk, nanti kalau kau bebas seenaknya
saja lari tanpa melihat binatang yang lebih kecil terinjak oleh kakimu yang
besar", sambil menghampiri Dito.
"Tolonggg aaaku..", ucapnya terengah
- engah.
Melihat
keadaan Dito, tak tega dengan cekatan Cito langsung menggerogoti jaring itu
hingga terlepas dari badan sang gajah.
"Terima kasih Cito. Cepat naik lah ke
badan ku", badan Dito membungkuk. Lalu mereka berlari bersama mencari
tempat yang aman.
Tak
lama setelah berlari sangat jauh dari seberang hutan, mereka beristirahat. "Auhh..auhh... ", suara nafas Dito
tak teratur.
"Gajah..gajah.. Terima kasih atas pertolonganmu", ucap
Cito.
"Aku yang seharusnya berterima kasih
padamu, tanpa kamu, aku
pasti dibawa oleh pemburu..", tegas Dito
sambil mengatur nafasnya.
Tikus
hanya diam dan senyumnya mengembang.
"Mulai
saat ini aku janji pada mu, jika aku berlari akan berhati - hati agar tak
terinjak binatang kecil lagi.", ucapnya lagi.
Sejak
saat itu sang gajah Dito mulai bersahabat bersama Cito tikus kecil itu.
Akhirnya mereka pergi masing - masing mencari keluarganya.
***
Pagi
itu suasana hutan hening sekali, tiba – tiba datang seorang pemburu tikus yang
membawa perangkap beserta senapannya. Sang gajah melihat pemburu, segera pergi
berlari menuju rumah tikus.
“Ada
gempah, masukk cepat!!!!”, teriak Cito kepada keluarganya.
“Hhhh..
Citt..citoo ada pemburu tikus dia ingin menangkapmu. Ujar Dito terengah –
engah.
“Aku
kira gempa, ternyata kamu. Dimana kamu melihatnya?”Ucap Cito.
“Disana!! Dia menuju ke arah sini”,
menunjukkan arah dengan hidungnya yang panjang. Mendengar perkataan Dito, Cito
kebingungan mondar – mandir di depan rumahnya.
“Sudah
ayo cepat pergi dari sini!! Panggil seluruh keluargamu. Cepatlah naik keatas
badanku!”, menurunkan belalainya. Pinta Dito. Keluarga Cito pun keluar dan naik keatas tubuh Dito.
“Lalu
bagaimana dengan teman – teman ku?” cakap Cito yang sedang menaik ke atas tubuh
Dito.
“Aku
akan menyuruh teman – temanku untuk
membawa mereka”. Tegasnya sambil berlari mencari rumah baru untuk tikus.
“Dinoo,
segera pergi kerumah tikus diseberang sana, angkutlah mereka semua dan ajak teman
yang lain”. Sapa
Dito kepada sekumpulan teman
– temannya yang bertemu dijalan.
Dengan
sigap para gajah itu berlari menuju tempat singgahan para tikus.
Setelah
lama berlari hingga tak terhitung berapa langkah Dito, mereka menemukan tempat
baru yang sangat aman dan cocok untuk Cito dan para tikus itu. Dan tak lama
kemudian, datanglah para teman Dito beserta tikus – tikus di pundak gajah. Cito
bersyukur sekali atas keselamatan keluarga dan teman – temannya utuh. Tak
menyangka hal yang dilakukan Dito terhadap dirinya. Mereka sangat berterima
kasih terhadap Dito dan kawan – kawannya.
“Dito..
dan kalian semua. Kami mengucapkan sangat berterima kasih telah menyelamatkan
kami dengan selamat. Kami tidak menyangka atas kebaikan kalian terhadap kami.
Kami berhutang budi pada kalian”, ujar Cito dengan nada lemah lembut.
“Kalian
juga telah menyelamatkan teman kami, Dito. Ujar salah satu teman Dito.
“Baiklah,
mulai saat ini kita bersahabat dan kita semua adalah keluarga”. Senyum Dito
bersama teman – temannya.
“Asikkk,
saatnya kita berpestaa”. Sahut salah satu tikus itu. Dan mereka merayakan pesta kecil hingga larut malam.
Sejak
kejadian itu, Dito dan Cito berteman baik mereka saling membantu setiap
harinya. Inilah dibalik kebaikan yang pernah dilakukan Cito kepada Dito yang
sebelumnya tanpa pamrih. Mendapat teman baru sekaligus keluarga. Menebar
kebaikan terhadap orang lain, maka akan berbuah kebaikan pula. Selamanya mereka
hidup rukun dan berbahagia.
No comments:
Post a Comment