Friday, October 5, 2018

FABEL

JEJAK KEBAIKAN
Oleh Widya Tri Mauliyana

Dorrr.... Doorr.. Suara pistol yang keras membuat para binatang pergi berhamburan melarikan diri.
Semua binatang dihutan semakin panik. Sang gajah berlari sekencang - kencangnya hingga terperangkap di jaring pemburu. Badan gajah yang kekar tak bisa mengalahkan jaring yang melekat pada tubuhnya.  Keadaan hutan pun semakin kacau akibat ulah pemburu tak berhati itu.
Tikus - tikus pun keluar berhamburan tanpa dipandu. Salah satu tikus kecil yang berlari ikut terperangkap dijaring pemburu bersama gajah.
 "Tolong - tolong... ", teriak keras Cito.
"Hei, buat apa berteriak? Nyawa kita semakin terancam". Ujar Dito sang gajah.
"Terus bagaimana kita keluar dari jaring ini?", tegas Cito.
"Pakai gigimu lah kan tajam", ide Dito.
Kemudian Cito langsung menggerogoti jaring yang menimpa badannya. Alhasil Cito bebas, dan berlari. 
"Heii, tikus kecil tolong aku lah",dengan wajah memohon.
 "Tidakkk, nanti kalau kau bebas seenaknya saja lari tanpa melihat binatang yang lebih kecil terinjak oleh kakimu yang besar", sambil menghampiri Dito.
 "Tolonggg aaaku..", ucapnya terengah - engah.
Melihat keadaan Dito, tak tega dengan cekatan Cito langsung menggerogoti jaring itu hingga terlepas dari badan sang gajah.
 "Terima kasih Cito. Cepat naik lah ke badan ku", badan Dito membungkuk. Lalu mereka berlari bersama mencari tempat yang aman.
Tak lama setelah berlari sangat jauh dari seberang hutan, mereka beristirahat.  "Auhh..auhh... ", suara nafas Dito tak teratur.
"Gajah..gajah..  Terima kasih atas pertolonganmu", ucap Cito.
 "Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, tanpa kamu, aku pasti dibawa oleh pemburu..", tegas Dito sambil mengatur nafasnya.
Tikus hanya diam dan senyumnya mengembang.
"Mulai saat ini aku janji pada mu, jika aku berlari akan berhati - hati agar tak terinjak binatang kecil lagi.", ucapnya lagi.
Sejak saat itu sang gajah Dito mulai bersahabat bersama Cito tikus kecil itu. Akhirnya mereka pergi masing - masing mencari keluarganya.
***
Pagi itu suasana hutan hening sekali, tiba – tiba datang seorang pemburu tikus yang membawa perangkap beserta senapannya. Sang gajah melihat pemburu, segera pergi berlari menuju rumah tikus.
“Ada gempah, masukk cepat!!!!”, teriak Cito kepada keluarganya.
“Hhhh.. Citt..citoo ada pemburu tikus dia ingin menangkapmu. Ujar Dito terengah – engah.
“Aku kira gempa, ternyata kamu. Dimana kamu melihatnya?”Ucap Cito.
 “Disana!! Dia menuju ke arah sini”, menunjukkan arah dengan hidungnya yang panjang. Mendengar perkataan Dito, Cito kebingungan mondar – mandir di depan rumahnya.
“Sudah ayo cepat pergi dari sini!! Panggil seluruh keluargamu. Cepatlah naik keatas badanku!”, menurunkan belalainya. Pinta Dito. Keluarga Cito pun keluar dan naik keatas tubuh Dito.
“Lalu bagaimana dengan teman – teman ku?” cakap Cito yang sedang menaik ke atas tubuh Dito.
“Aku akan menyuruh teman – temanku untuk membawa mereka”. Tegasnya sambil berlari mencari rumah baru untuk tikus.
“Dinoo, segera pergi kerumah tikus diseberang sana, angkutlah mereka semua dan ajak teman yang lain”. Sapa Dito kepada sekumpulan teman – temannya yang bertemu dijalan.
Dengan sigap para gajah itu berlari menuju tempat singgahan para tikus.
Setelah lama berlari hingga tak terhitung berapa langkah Dito, mereka menemukan tempat baru yang sangat aman dan cocok untuk Cito dan para tikus itu. Dan tak lama kemudian, datanglah para teman Dito beserta tikus – tikus di pundak gajah. Cito bersyukur sekali atas keselamatan keluarga dan teman – temannya utuh. Tak menyangka hal yang dilakukan Dito terhadap dirinya. Mereka sangat berterima kasih terhadap Dito dan kawan – kawannya.
“Dito.. dan kalian semua. Kami mengucapkan sangat berterima kasih telah menyelamatkan kami dengan selamat. Kami tidak menyangka atas kebaikan kalian terhadap kami. Kami berhutang budi pada kalian”, ujar Cito dengan nada lemah lembut.
“Kalian juga telah menyelamatkan teman kami, Dito. Ujar salah satu teman Dito.
“Baiklah, mulai saat ini kita bersahabat dan kita semua adalah keluarga”. Senyum Dito bersama teman – temannya.
“Asikkk, saatnya kita berpestaa”. Sahut salah satu tikus itu. Dan mereka merayakan pesta kecil hingga larut malam.
Sejak kejadian itu, Dito dan Cito berteman baik mereka saling membantu setiap harinya. Inilah dibalik kebaikan yang pernah dilakukan Cito kepada Dito yang sebelumnya tanpa pamrih. Mendapat teman baru sekaligus keluarga. Menebar kebaikan terhadap orang lain, maka akan berbuah kebaikan pula. Selamanya mereka hidup rukun dan berbahagia.


No comments:

Post a Comment

Cerpen untuk Ayah

Demi Gelar Sarjana untuk Ayah “Aydiw” Kringg..kringgg..kringg Suara ponsel berdering keras mengusik ke ramaian ruangan kerja, ternya...