Sunday, October 14, 2018

Cerpen Dia Lelaki Berdusta Demi Sayang



"Aydiw"
Kisah ini berawal dari sebuah hubungan antara aku dan dia. Aku bernama Rini Atma Jaya, biasa dipanggil Rini. Dia adalah seseorang ketua osis yang aku kenal sejak SMP, sebut saja Adi. Dia adalah adik kelas, pintar, putih, mata sipit, baik dan berasal dari keluarga berada setiap hari antar jemput mobil. Aku kenal dia lewat Facebook, selama saling kenal kami jarang menyapa meskipun satu sekolah. Perkenalannya pun singkat sekali hanya tiga hari. Dari sebuah Facebook aku terjebak dalam cinta monyet.
            Awalnya hanya untuk mengisi waktu kosong main facebook. Tiba – tiba ada pesan darinya.menanyakan aku ada dimana. Setelah aku balas pesannya, kalau aku berada dirumah sahabatku disalah satu daerah di kota ku. Tak lama dia tiba dirumah sahabatku dengan motornya. Entah kenapa dia mengajak aku jalan dan aku mau saja diboncengnya. Selama dijalan, dia banyak cerita tentang dirinya dan aku jadi pendengar setianya kala itu. Hanya mengukur jalan tanpa berhenti, diboncengnya aku pun senang. Tak terasa waktu telah senja, aku dengannya dianterkan pulang.
            Sejak kejadian itu, kami selalu menghabiskan banyak waktu melalui SMS ataupun telepon saja. Meskipun kami satu sekolah, jarang sekali kita saling menyapa, malah hampir tidak pernah. Perkenalan ini berlanjut secara lama. Hingga pada akhirnya aku berpacaran dengannya. Lanjut kisah detailnya. J
            Setiap hari dia menemaniku, dia selalu ada untukku, dia adalah napasku, bahkan tak ada yang mampu menggantikannya dihatiku karena tak ada lagi yang sepertinya. Pengertian, perhatian, bijaksana, dewasa, juga baik hati, itu kata – kata yang sering aku ucapkan dulu. Dia selalu mengirimkan kata mesranya terhadap aku baik lewat SMS atau telepon. Bahkan, dia sering berkunjung ke rumahku dengan alasan belajar bersama. Padahal kami berbeda kelas, untung saja ibuku tidak mengetahui hal itu.
            Aku bahagia sekali karena aku mempunyai kekasih sepertinya, sempurna. Ya, aku menyebutnya sempurna. Bahkan aku mencintainya lebih dari apapun. Sampai aku mau membantu menyelesaikan tugas sekolahnya, begitu pun dia yang selalu membantuku menyelesaikan tugas sekolahku, meskipun aku dan dia adalah hubungan adik kelas. Tapi dia cukup ahli dalam komputer meskipun dia masih SMP kala itu. Tidak hanya itu dia selalu mengisi pulsa aku jika aku tidak membalas pesannya, padahal aku tidak memintanya. Dia juga pernah memberiku aksesoris berupa kalung, cincin, bros dan surat. Isi suratnya romantis dan alay menurutku.
Jika ada waktu, dia mengajakku pergi ke taman di kota yang juga deket sungai. Disana hanya menyaksikan banyak anak kecil bermain layangan dan bola. Tanpa pepatah dua kata aku dan dia mengobrol hingga tertawa berbahak – bahak dibuatnya. Aku dan dia menghabiskan waktu bersama hingga senja mulai pergi. Kami pun ikut pergi dan pulang kerumah dengan motor maticnya. Setiap ada waktu libur aku dan dia selalu diajak keluar entah makan, atau pun jalan – jalan mengelilingi kota.
***
            Ketika awal ajaran aku naik ke kelas 9, dan dia kelas 8. Sebagai ketua osis dia melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Dia sibuk saat itu, melaksanakan berbagai kegiatan dengan temannya yaitu MOS (Masa Orientasi Siswa). Dimana saat itu hampir dia tak menghubungi setiap detik. Pikirku mungkin karena dia sibuk mempersiapkan kemah dan lain – lain hingga lupa memberi kabar kepadaku. Aku hanya terus berpikir positif padanya. Tapi ternyata dugaanku salah. Dia dekat dengan salah satu siswi baru, namannya Puspa. Dan terlihat mata ku, hingga tak sanggup lagi ku bendung air mata dan hati begitu sakit kala itu. Bahkan, aku sempat mau mengakhiri saat itu juga.
            Usai pulang sekolah aku langsung ambil HP dan membuka Facebook. Aku kirim pesan padanya, “Aku mau kita putus”. Dia membalasnya, “Ok kita putus”. Saat itu aku tak menyangka dia tega kepadaku. Hingga aku tak mau mengenalnya lagi sambil airmataku keluar tanpa diminta. Saat itu juga aku mulai menjauh darinya termasuk disekolah dan aku menghapus nomor teleponnya dari HP ku.
            Beberapa minggu kemudian, tepat dihari kelahiranku, tiba – tiba ada pesan via Facebook darinya “Selamat ulang tahun panjang umur”, katanya. Aku tak menyangka apa yang dia lakukan saat itu. Aku pun membalasnya “Terima Kasih”. Dan dia pun membalasnya lagi, “Apa kabar?”. Aku pun hanya membacanya dan dia pun terus mengirim pesan kepadaku. “Aku minta maaf  atas apa yang dulu aku lakukan padamu. Aku lakukan itu semua bukan dari hatiku, dan aku masih mencintaimu”. Setelah ku membaca pesannya segera ku bales, “Apa yang kau lakukan itu semua menyakiti perasaanku, tak peduli dengan apapun alasanmu”. Langsung aku off dari Facebook karena baterai HP mau habis.
            Setelah mengerjakan pekerjaan sekolah, aku kembali mengambil HP ku yang tadi di charger. Langsung ku On Facebook, ada pesan lagi darinya, “Aku lakukan itu semua karena aku tak ada uang untuk memberikanmu sesuatu dihari kelahiranmu. Dan aku menyesal sekali”. Aku terharu dan sedih membaca pesannya. Aku pun membalasnya, “Aku tak pernah mengharapkan pemberianmu. Aku bersamamu itu sudah cukup. Itu sangat menyakitiku”. Dia membalasnya, “Iya, aku minta maaf sebesar besarnya kepadamu, aku janji aku tidak akan seperti itu lagi. Apa kamu mau balikan lagi bersama ku?”. Entah kenapa aku langsung jawab, “Iya aku mau, tapi kamu janji?”, Dia “Iya aku janji”. Dan dia langsung mengubah status Facebooknya berpacaran dengan ku. Hingga temanku banyak yang mengucapkan selamat pada kami.
            Sejak saat itu hubungan kami kembali seperti dahulu, kami juga sering menghabiskan waktu untuk bersama. Bahkan, kami semakin akrab di sekolah, tidak ada kata canggung lagi untuk ke kantin bersama. Hingga semua guru kami mengetahui hubungan yang terjalin sempat terputus. Berpacaran dengannya, aku semakin terkenal disekolah, gimana tidak dia seorang ketua osis di sekolah menengah pertamaku. Yaa maklum saja aku jadi semakin banyak dikenal. hehee
            Beberapa bulan kemudian, dia mengikuti kegiatan sekolah study tour ke Yogyakarta selama 3 hari. Saat itu sekolah berubah menjadi sepi tanpanya. Biasanya kami sering bersama dikantin sekolah. Meskipun dia tak disekolah, dia tetap mengirimkan pesan SMS padaku. Salah satu pesannya,  “Jum’at aku sekolah dan temui aku di Musollah sekolah”. Aku pun membalasnya, “Iya”.
            Ini hari Jum’at, seperti biasa aku berangkat pagi diantarkan oleh ayah ku. Tak menyangka dia telah di musollah lebih dulu dariku. “Tumben datang pagi sekali” sapa ku padanya. “aku rindu ingin bertemu denganmu, nih buat kamu (sambil memberikan bingkisan padaku)” balasnya. Ternyata isinya jam tangan, kalung separuh love serta gelang bertulis inisial nama aku dan dia. “Ini bagus sekali, aku suka. Terima kasih ya” kataku padanya. “Iya sama – sama, dipake semua ya”. Senyumnya padaku. Aku pun tersenyum, membalasnya dan pergi ke kelas masing – masing karena bel telah berbunyi.
            Setelah pulang sekolah, kami menunggu jemputan masing – masing di toko depan sekolah kami. Sambil membeli minuman coklat untuk mengurangi dahaga efek dari musim kemarau. “Hmm... gimana kalau kita foto bareng?” Ajaknya padaku. “Foto dimana?” Sambil menikmati minuman coklat yang ku beli. “Disini aja, asal foto bersamamu”, kata Adi. Dia berenjak duduk di dekatku dan mengeluarkan ponselnya. Ckrik..ckrikk suara bunyi ponselnya menandakan gambar telah terambil. Saat itu adalah foto pertamaku bersama seorang pacar, yaa dia Adi. Tak lama mobil putih datang, ternyata papanya yang keluar untuk menjemput Adi. Dia meninggalkanku dan pulang bersama papanya.
            Tak lama kemudian dari arah timur, seorang pahlawan berjaket dengan wajah manis dan bermotor merah menjemputku, ya itu ayahku. Ayah yang paling keras mendidik anaknya untuk selalu mandiri dan rajin bersekolah. Aku bangga sama ayah, dia tak pernah mengeluh meskipun antar jemputnya aku kemana pun. Dan aku bahagia mempunyai ayah sepertinya.
            Keesokannya, seperti biasa ayah mengantar aku kesekolah. Tiba disekolah aku gelisah, sampai bel berbunyi, tak kunjung bertemu Adi. Ketika bel berbunyi, ia tak terlihat batang hidungnya juga. Jam istirahat, aku bersama temanku pergi ke kantin sekolah. Kulihat sekeliling isi kantin, ternyata dia juga tidak ada. Perasaanku mulai khawatir padanya. “Kak, Adi sakit apa?” tanya salah satu teman sekelasnya padaku. Aku terdiam, tak menjawab sepatah dua kata dan hanya menggelengkan kepala, pertanda tidak tahu.
            Dan akhirnya sepulang sekolah aku mencoba menghubunginya dengan mengirimkan pesan di facebook. “Hai, kamu kenapa tidak sekolah hari ini?”. Tiba – tiba ada pesan masuk, “Hari ini aku sakit, tadi periksa ke dokter”, balasnya. “Ya sudah, cepet sembuh ya biar bisa sekolah lagi,” balasnya lagi. Dan ternyata dia telah off.
            Rasa khawatirku terbayar setelah mengetahui kabarnya dia yang sedang sakit. Aku berdoa agar dia segera masuk dan kembali bersekolah. Lalu ku lanjutkan lagi tugas sekolahku yang belum sempat terselesaikan tadi. Dua jam kemudian, ada sms darinya. “Kamu jangan khawatir, aku hanya demam saja. Besok aku masuk sekolah, sampai jumpa disekolah ya”, darinya. Membaca pesan smsnya aku senang sekali dan rasanya ingin segera pagi untuk bertemu dengannya.
            Pagi itu, aku tak menyangka dia yang ku tunggu – tunggu ternyata dihukum karena datang terlambat. Dia jemur oleh guru piket sampai jam kedua baru dia masuk kelas. Aku heran kenapa dia terlambat, padahal sebelumnya tak pernah terlambat.
            Saat istirahat, aku bersama temanku membeli jus dan beberapa makanan. “Hai, boleh aku gabung? Sambil tersenyum melihatku. “Boleh”, jawabku singkat. “Rin, aku balik duluan ya”, ucap salah satu teman kelasku. “Eh.. iya sudah”, sambil melambaikan tangan. Aku terasa gugup sekali duduk berdua begini. “Kok diam aja sih?”, tanyanya. “Emang mau bernyanyi?”, sambil meminum jus. “Monggo nyanyi, tak dengerin sekarang”, ejeknya. Tetttt..tettttt
“Eh sudah bel tuh, aku masuk dulu”, sambil berdiri. Dengan spontan dia memegang tanganku. “Bareng dong”, sambil bergandengan tangan menuju kelas masing – masing. Kebetulan kelasnya dibelakang kelasku.
            Waktu telah siang, langkah kaki ku menuju pintu gerbang sekolah, ternyata aku telah dijemput oleh ayah seperti biasanya. Tapi aku belum sempat bertemu dengan Adi sepulang sekolah. Drett..drettt Hp bergetar, ku lihat ada pesan pacarku, Adi. “Sudah pulang duluan ya”, pesan Adi. Jari jemariku mengetik untuk menjawab pesan Adi, “Iya aku telah dijemput”, balasku lagi. Lalu dibalasnya lagi, “Sampai ketemu besok disekolah”. Aku senang membaca smsnya hingga sampai rumah, pipiku serasa memerah. Tak sabar untuk bertemu besok dengannya lagi.
            Seperti biasa disekolah, saat istirahat kami bertemu untuk makan bersama dengannya sekaligus dengan temanku juga. Sampai pulang pun kami juga sering untuk bertemu sambil menunggu jemputan masing – masing. Semakin lama hubungan kami semakin dekat. Aku bahagia bersamanya dengan cinta, dan rasa sayang yang diberikan olehnya.
***
Tak terasa hubungan aku bersama Adi telah tahun. Sore itu aku bersepeda padahal tak janjian untuk ketemu. Ttttiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnn....... bunyi klason motornya dari arah belakang. Dengan spontan aku menolehnya, “Ah apaan sih, berisik tauuuuk”, ucapku dengan jutek. “Kaget pasti ya, maaf deh. Kita ke taman yuk sebentar saja,” sambil mendahului didepan sepedaku. “Hemm”, mengehela nafas sambil ku lanjutkan mengayuh sepeda.
Sampai ditaman, aku parkir sepeda, dan menghampirinya yang telah dulu sampai ditaman. “Ada apa sih ajak aku kesini?”, cetusku terengah – engah habis bersepeda. “Minum dulu nih”, sambil berikan sebotol air kemasan. Lalu ku minum airnya sampai habis. “Ada apa kok ngajak kesini sih?” tanya ku kembali. “Aku mau ngasik ini”, sambil menjulurkan boneka teddy bear pink bertulis I Love You. “Hari adalah hari jadian kita yang pertama, itu buat kamu”. Ujarnya kembali. Aku hanya tersenyum dia memberikan boneka padaku. Aku tak menyangka saja dia romantis, pikirku saat itu. “Aku pulang duluan ya, sudah hampir adzan magrib nih”, melihat jam yang melingkar dilengan kiri. “Baiklah, aku antar sekarang”, jawabnya dengan nada sedikit kecewa. Langkah kami menuju parkiran dia sempat menggandeng tangan kananku. Tapi ku lepaskan, karena malu.
            Diperjalanan pulang ke rumah, dia mengikuti dari belakang. Dengan peluh bercucuran mulai membasahi pakaian, aku mempercepat mengayuh sepeda. Aku takut sekali pulang terlalu sore. Waktu terus ku kejar dengan mengayuh sepeda yang semakin cepat. Akhirnya aku tiba digang rumah dan kami berpisah untuk pulang kerumah masing – masing.
            Semenjak sore itu, aku bersama Adi mulai jarang bertemu. Mengingat dia yang libur karena aku lagi disibukkan berbagai ujian disekolah. Hingga awalnya aku pikir dia akan mengerti keadaanku. Tapi tidak, dilain posisi dia mengajak aku untuk keluar. Tentu saja aku menolaknya. Padahal aku harus belajar kelompok dan les diberbagai tempat untuk menunjang nilaiku dalam ujian terakhir masa putih biru. Ternyata dia mulai mengerti dan mendukung kegiatanku.
Waktu yang ditunggu – tungu telah tiba, aku ujian nasional, selama empat hari. Jadi waktu untuk berkomunikasi tak sempat ku lontarkan seuntai kata – kata. Aku hanya fokus belajar selama empat hari. Syukur saja dia mengerti dan tidak marah padaku. Sehabis ujian nasional selesai, aku segera mengabarinya. Sekedar basa – basi menyambung komunikasi yang selama empat hari tak ada pepatah yang romantis untukku.
Seperti biasa dia masuk sekolah, dan aku dirumah saja karena habis ujian tidak ada lagi kegitan mengajar. Komunikasi ku masih lancar jaya seperti biasa melalui sms dan facebook kala itu. Selain itu ia juga disibukkan berbagai ektrakulikuler band, ia sebagai drummer. Mungkin bisa dikatakan handal sih, dia juga makin keren kalo lagi ngeband. Setiap pulang sekolah dia latihan bersama grup band disekolah untuk tampil diacara perpisahan kelas 9. Aku tak bisa membayangkan, setelah lulus aku tak bisa lagi melihat keadaan dirinya  langsung terlihat mataku.
Pagi itu sekolah mulai ramai mengingat acara perpisahan kelas 9. Aku tidak tahu, aku semakin sedih dengan adanya perpisahan itu. Suara panggung yang semakin keras pukulan drum olehnya, aku menikmati ketika dia tampil. Aku hanya duduk terpaku melihatnya hingga aku berfikiran, “Bagaimana dengan dia ketika aku telah lulus nanti ?”, kata hatiku. Setelah tampil dia menemui ku, mengajakku duduk bersamanya. Kami pum berdua duduk bersama dibelakang panggung. Raut wajahku mengkerut berfikiran aneh tentangnya. “Kamu kenapa?” tanyanya. “Tidak apa – apa kok”, dengan nada datar. “Kamu tenang aja, acara ini hanya pisah kenang dengan kelas 9. Jadi bukan perpisahan hubungan kita kok”, dengan tegasnya menjawab. “Apa kamu yakin?”, ucapku. “Aku yakin kok, aku tak akan seperti dahulu lagi”, sambil menatap mataku. “Aku pegang ucapanmu”, kataku. “Jangan sedih, sebentar lagi aku akan tampil lagi”, sambil tersenyum padaku. “Yaudah sana siap – siap”, ucapku kembali. Dia pun langsung naik ke atas pentas dan memainkan drum lagi.
Ketika itu ucapannya langsung terekam oleh memori otakku. Aku berharap dia tak seperti dulu lagi, dan komitmen dengan ucapannya padaku. Positif dan saling percaya aku berikan full untuknya.
Sehabis acara itu aku pun mulai sibuk mempersiapkan berbagai persyaratan masuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dikota ku. Akhirnya aku memutuskan bersekolah di salah satu SMK yang merupakan sekolah favorit dikota ku. Aku keterima di jurusan Perbankan. Disamping kesibukanku, dia masih tetap menghubungi ku meskipun ia sedang sibuk ujian kenaikan kelas. Aku senang dia masih perhatian kala itu. hubungan kami pun masih berjalan seperti dahulu meski kita berbeda sekolah.
Ketika awal ajaran baru, aku resmi menjadi siswa SMK dan dia kelas 9. Meskipun sekolah berbeda, obrolan kami masih asik seperti dulu. Kami juga sering menghabiskan banyak waktu saat weekend ataupun waktu kosong. Terkadang dia juga menjemputku pulang sekolah. Dia juga sering menemaniku ke perpustakaan, makan bareng habis pulang sekolah. Aku bahagia sekali dengannya dia membuktikan ucapannya saat itu. Aku dengannya juga semakin sayang, dia pun juga.
Waktu anniversary yang ke 2, aku diajak pergi ke taman dengannya. Ternyata juga telah disiapkan boneka yang besar teddy bear. Aku gembira, dia masih romantis saja kepadaku. Pikiran hanya tertuju kepadanya terus dan rasa ini semakin yakin untuknya. Bulan depannya ulang tahunku, dia juga memberiku kado sebagai bentuk perhatian kepadaku katanya. Aku tak pernah meminta barang ke Adi. Aku hanya memintanya untuk setia dengan diriku saja. Dia masih menyanggupi permintaanku waktu itu.
***
Lamban laun perjalanan kisah ini dengannya semakin renggang. Entah mungkin karena dia telah duduk dibangku Sekolah Menengah Atas, banyak tugas yang dia pikul untuk menunjang nilainya. Aku masih mengerti keadaannya. Selalu aku biarkan untuk dia fokus sama sekolahnya dan akupun juga begitu. Seiringnya berjalan dengan waktu, aku sempat bertengkar hebat, entah karena hal sepele, yaitu aku tidak menghubunginya. Padahal, aku yang menunggu kabarnya. Sikap egois yang kita miliki masing – masing jadi memperpanas masalah. Hingga aku dan dirinya jarang berkomunikasi dan bertemu juga jarang saat itu.
Apalagi saat aku sedang praktek lapangan kerja, dia juga marah. Waktu untuknya berkurang, ujarnya. Yang bener saja, aku praktek lapangan kerja ini untuk menunjang nilai raportku. Aku semakin marahan dengannya. Tapi dia juga tak kunjung mengerti keadaan ini. Aku heran saja, kenapa dia berubah seperti itu. Aku tetap berfikir positif terhadapnya, hingga aku yang mengalah.
Setelah kami baikan, dia mulai menjemputku lagi ditempat praktek kerja lapangan, dibank pemerintah aku disana selama 3 bulan. Dari pertengkaran yang kami alami, kita membuat komitmen untuk saling mengalah dan jujur. Itu komitmen yang Adi buat sendiri, aku hanya menyetujuinya saja.
***
            Tiga bulan telah dilalui, tak terasa aku telah berada diujung jari dari masa putih abu – abu. Semakin disibukkan berbagai kegiatan belajar, dari tambahan pelajara, belajar kelompok ditambah dengan bimbel diluar itu semua sangat menyita waktu ku dengannya. Dan dia marah lagi kepadalu, karena waktu untuknya tidak ada. Sudah ku jelaskan dengan panjang lebar kepadanya, masih tidak mau tau dengan alasanku, intinya dia marah. Tapi aku hiraukan saja dia marah, aku hanya peduli dengan kegiatan belajar yang untuk mempersiapkan ujian nasional yang menungguku digerbang mata.
            Akhir pekan, tanpa ada rencana tiba – tiba dia menelfonku, “Ke cafe ya, aku tunggu”, ucapnya dan langsung mematikan telfonnya. Beberapa menit kemudian, aku tiba disana dengan motor dan parkir tepat di sebelah motornya. Langsung saja aku menaiki beberapa anak tangga yang agar bisa menuju ke lantai 2, Adi ada disana biasanya, pikirku. Betul apa yang aku rasakan, dia duduk dipinggir sudut cafe sambil menikmati minuman yang dipesannya. “ Hai..”, sapaku sambil duduk disampingnya. “Lama banget sih”, cetusnya. “Iya tadi baru pulang dari bimbel”, jawabku. Tiba – tiba seorang pelayan cafe menghampiriku dan memberikan bingkisan tas. “Ini mbak terima”, kata pelayan cafe. “Ini dari siapa ya?”, tanyaku pada pelayan sambil melihat isi tas itu. Ku lihat isinya ternyata jilbab syar’i, “ehh mbak tunggu”, teriakku kepada pelayan itu. pelayan itu menghiraukan dan turun ke lantai satu. “Itu dipake ya”, sahut Adi. “Ini dari kamu?”, tanyaku pada dirinya. Ia hanya tersenyum saat aku melihat model jilbabnya. “Kamu suka?”, tanya dia lagi. “Suka, bagus lagi”, ucapku sambil meletakan kembali jilbab ke dalam bingkisan tas. “Aku mengajakmu karena, besok adalah hari anniversary ke-3 kita, karena aku besok kegiatan disekolah”, ucapnya. “Jadi, sudah tidak marah kan sama aku. Ya aku tahu besok  adalah hari kita. Terimah kasih ya masih mau mengerti kesibukanku juga”, lontarku padanya. Ia tersenyum sangat bahagia melihat aku. Aku pun terbawa suasana jadi galfok dibuatnya. Puas bersenda gurau, kamipun balik kerumah masing – masing.
            Semenjak merayakan anniversary yang ke – 3 kami jarang dan hampir tidak pernah ketemu berbulan – bulan lamanya. Rasa khawatir mulai meningkat, dulu yang 30%, sekarang mencapai 99%. Itu hanya perumpamaan jika diukur dengan alat pendeteksi khawatir. Semakin bingung apa yang harus aku lakukan, sms dan chat facebook juga tak pernah dibales lagi dengannya. Aku juga tidak tahu bagaimana keadaannya, terkadang ada rasa ingin mengunjungi rumahnya. Tapi belum pernah sekali diajak kerumahnya. Hanya bisa sabar dan menunggu kabar darinya sepanjang waktu. Aku tak mengerti apa yang terjadi saat itu, yang pikirkan, dia lupa terhadap diriku.
            Dilain hal, aku juga sibuk dengan acara ujian sekolah yang sangat padar. Tapi disela – sela itu, aku stalking untuk mencari nama facebook tentangnya. Ternyata dugaanku, memang benar – benar ada facebook barunya. Aku lihat semua berandanya, dia berselingkuh dengan adik kelasnya. Gimana histerisnya aku saat itu, gagal fokus mengingatnya. Ketika diruang ujian, aku mencoba melupakannya sejenak, agar bisa mengerjakan dengan benar.
            Selesai ujian, aku buka ponsel, menerima pesan singkat darinya, “Aku mau kita putus. Aku ingin sendiri detik ini. Tolong mengerti aku”, sms Adi. Berkali – kali membaca pesannya, aku tak bisa menahan air mata ini. Hanya menangis yang bisa aku lakukan untuk menerima kenyataan yang ia berikan padaku. Aku tidak menyangka, kepercayaan yang aku bangun dengan dirinya, digusur dengan perselingkuhan terhadapku. Setelah sekian lama aku setia bersamanya. Ini balasan yang aku dapatkan selama tiga tahun delapan bulan. Dia tak pernah berubah, selalu berdusta dengan ucapannya sendiri.
            Akhirnya, keputusan yang sangat tidak sinkron harus aku pilih, yaitu memutuskan untuk mengubur masa – masa tentangnya. Dimulai dari foto, barang – barang yang ia berikan semuanya. Aku musnahkan dan aku bakar hingga tak ada yang tersisa sedikitpun. Mantan adalah masa lalu, bukan pahlawan yang harus dikenang, melainkan dibuang pada tempat yang semestinya.

No comments:

Post a Comment

Cerpen untuk Ayah

Demi Gelar Sarjana untuk Ayah “Aydiw” Kringg..kringgg..kringg Suara ponsel berdering keras mengusik ke ramaian ruangan kerja, ternya...