"Aydiw"
Kisah ini berawal dari sebuah
hubungan antara aku dan dia. Aku bernama
Rini Atma Jaya, biasa dipanggil Rini. Dia adalah
seseorang ketua osis yang aku kenal sejak SMP, sebut saja Adi. Dia adalah adik kelas,
pintar, putih, mata sipit, baik dan berasal dari keluarga berada setiap hari antar
jemput mobil. Aku kenal dia lewat Facebook, selama saling kenal
kami jarang menyapa meskipun satu sekolah. Perkenalannya pun singkat sekali
hanya tiga hari. Dari sebuah Facebook aku terjebak dalam cinta monyet.
Awalnya
hanya untuk mengisi waktu kosong main facebook. Tiba – tiba ada pesan darinya.menanyakan aku ada
dimana. Setelah aku balas
pesannya, kalau aku berada dirumah sahabatku disalah satu daerah di kota ku.
Tak lama dia tiba dirumah sahabatku dengan motornya. Entah kenapa dia mengajak
aku jalan dan aku mau saja diboncengnya. Selama dijalan, dia banyak cerita tentang dirinya dan
aku jadi pendengar setianya kala itu.
Hanya mengukur jalan tanpa berhenti,
diboncengnya aku pun senang. Tak terasa waktu telah senja, aku dengannya
dianterkan pulang.
Sejak
kejadian itu, kami selalu menghabiskan banyak waktu melalui SMS ataupun telepon saja. Meskipun
kami satu sekolah, jarang sekali
kita saling menyapa, malah hampir tidak pernah. Perkenalan ini berlanjut secara
lama. Hingga pada akhirnya aku berpacaran dengannya. Lanjut kisah detailnya. J
Setiap hari dia menemaniku, dia
selalu ada untukku, dia adalah napasku, bahkan tak ada yang mampu
menggantikannya dihatiku karena tak ada lagi yang sepertinya. Pengertian,
perhatian, bijaksana, dewasa, juga baik hati, itu kata – kata yang sering aku
ucapkan dulu. Dia selalu mengirimkan kata mesranya terhadap aku baik lewat SMS
atau telepon. Bahkan, dia sering berkunjung ke rumahku dengan alasan belajar
bersama. Padahal kami berbeda kelas, untung saja ibuku tidak mengetahui hal
itu.
Aku bahagia sekali karena aku
mempunyai kekasih sepertinya, sempurna. Ya, aku menyebutnya sempurna. Bahkan
aku mencintainya lebih dari apapun. Sampai aku mau membantu menyelesaikan tugas
sekolahnya, begitu pun dia yang selalu membantuku menyelesaikan tugas
sekolahku, meskipun aku dan dia adalah hubungan adik kelas. Tapi dia cukup ahli
dalam komputer meskipun dia masih SMP kala itu. Tidak hanya itu dia selalu
mengisi pulsa aku jika aku tidak membalas pesannya, padahal aku tidak
memintanya. Dia juga pernah memberiku aksesoris berupa kalung, cincin, bros dan
surat. Isi suratnya romantis dan alay menurutku.
Jika
ada waktu, dia mengajakku pergi ke taman di kota yang juga deket sungai. Disana
hanya menyaksikan banyak anak kecil bermain layangan dan bola. Tanpa pepatah
dua kata aku dan dia mengobrol hingga tertawa berbahak – bahak dibuatnya. Aku
dan dia menghabiskan waktu bersama hingga senja mulai pergi. Kami pun ikut
pergi dan pulang kerumah dengan motor maticnya. Setiap ada waktu libur aku dan
dia selalu diajak keluar entah makan, atau pun jalan – jalan mengelilingi kota.
***
Ketika awal ajaran aku naik ke kelas
9, dan dia kelas 8. Sebagai ketua osis dia melaksanakan tugas dan tanggung
jawabnya. Dia sibuk saat itu, melaksanakan berbagai kegiatan dengan temannya
yaitu MOS (Masa Orientasi Siswa). Dimana saat itu hampir dia tak menghubungi setiap
detik. Pikirku mungkin karena dia sibuk mempersiapkan kemah dan lain – lain
hingga lupa memberi kabar kepadaku. Aku hanya terus berpikir positif padanya.
Tapi ternyata dugaanku salah. Dia dekat dengan salah satu siswi baru, namannya
Puspa. Dan terlihat mata ku, hingga tak sanggup lagi ku bendung air mata dan
hati begitu sakit kala itu. Bahkan, aku sempat mau mengakhiri saat itu juga.
Usai pulang sekolah aku langsung
ambil HP dan membuka Facebook. Aku kirim pesan padanya, “Aku mau kita putus”.
Dia membalasnya, “Ok kita putus”. Saat itu aku tak menyangka dia tega kepadaku.
Hingga aku tak mau mengenalnya lagi sambil airmataku keluar tanpa diminta. Saat
itu juga aku mulai menjauh darinya termasuk disekolah dan aku menghapus nomor
teleponnya dari HP ku.
Beberapa minggu kemudian, tepat dihari
kelahiranku, tiba – tiba ada pesan via Facebook darinya “Selamat ulang tahun
panjang umur”, katanya. Aku tak menyangka apa yang dia lakukan saat itu. Aku
pun membalasnya “Terima Kasih”. Dan dia pun membalasnya lagi, “Apa kabar?”. Aku
pun hanya membacanya dan dia pun terus mengirim pesan kepadaku. “Aku minta
maaf atas apa yang dulu aku lakukan
padamu. Aku lakukan itu semua bukan dari hatiku, dan aku masih mencintaimu”.
Setelah ku membaca pesannya segera ku bales, “Apa yang kau lakukan itu semua
menyakiti perasaanku, tak peduli dengan apapun alasanmu”. Langsung aku off dari
Facebook karena baterai HP mau habis.
Setelah mengerjakan pekerjaan sekolah,
aku kembali mengambil HP ku yang tadi di charger. Langsung ku On Facebook, ada
pesan lagi darinya, “Aku lakukan itu semua karena aku tak ada uang untuk
memberikanmu sesuatu dihari kelahiranmu. Dan aku menyesal sekali”. Aku terharu
dan sedih membaca pesannya. Aku pun membalasnya, “Aku tak pernah mengharapkan
pemberianmu. Aku bersamamu itu sudah cukup. Itu sangat menyakitiku”. Dia
membalasnya, “Iya, aku minta maaf sebesar besarnya kepadamu, aku janji aku
tidak akan seperti itu lagi. Apa kamu mau balikan lagi bersama ku?”. Entah
kenapa aku langsung jawab, “Iya aku mau, tapi kamu janji?”, Dia “Iya aku
janji”. Dan dia langsung mengubah status Facebooknya berpacaran dengan ku.
Hingga temanku banyak yang mengucapkan selamat pada kami.
Sejak saat itu hubungan kami kembali
seperti dahulu, kami juga sering menghabiskan waktu untuk bersama. Bahkan, kami
semakin akrab di sekolah, tidak ada kata canggung lagi untuk ke kantin bersama.
Hingga semua guru kami mengetahui hubungan yang terjalin sempat terputus.
Berpacaran dengannya, aku semakin terkenal disekolah, gimana tidak dia seorang
ketua osis di sekolah menengah pertamaku. Yaa maklum saja aku jadi semakin
banyak dikenal. hehee
Beberapa bulan kemudian, dia
mengikuti kegiatan sekolah study tour ke Yogyakarta selama 3 hari. Saat itu sekolah
berubah menjadi sepi tanpanya. Biasanya kami sering bersama dikantin sekolah. Meskipun
dia tak disekolah, dia tetap mengirimkan pesan SMS padaku. Salah satu pesannya,
“Jum’at aku sekolah dan temui aku di
Musollah sekolah”. Aku pun membalasnya, “Iya”.
Ini hari Jum’at, seperti biasa aku
berangkat pagi diantarkan oleh ayah ku. Tak menyangka dia telah di musollah
lebih dulu dariku. “Tumben datang pagi sekali” sapa ku padanya. “aku rindu
ingin bertemu denganmu, nih buat kamu (sambil memberikan bingkisan padaku)”
balasnya. Ternyata isinya jam tangan, kalung separuh love serta gelang bertulis
inisial nama aku dan dia. “Ini bagus sekali, aku suka. Terima kasih ya” kataku
padanya. “Iya sama – sama, dipake semua ya”. Senyumnya padaku. Aku pun tersenyum,
membalasnya dan pergi ke kelas masing – masing karena bel telah berbunyi.
Setelah pulang sekolah, kami menunggu
jemputan masing – masing di toko depan sekolah kami. Sambil membeli minuman
coklat untuk mengurangi dahaga efek dari musim kemarau. “Hmm... gimana kalau
kita foto bareng?” Ajaknya padaku. “Foto dimana?” Sambil menikmati minuman
coklat yang ku beli. “Disini aja, asal foto bersamamu”, kata Adi. Dia berenjak
duduk di dekatku dan mengeluarkan ponselnya. Ckrik..ckrikk suara bunyi
ponselnya menandakan gambar telah terambil. Saat itu adalah foto pertamaku bersama
seorang pacar, yaa dia Adi. Tak lama mobil putih datang, ternyata papanya yang
keluar untuk menjemput Adi. Dia meninggalkanku dan pulang bersama papanya.
Tak lama kemudian dari arah timur,
seorang pahlawan berjaket dengan wajah manis dan bermotor merah menjemputku, ya
itu ayahku. Ayah yang paling keras mendidik anaknya untuk selalu mandiri dan
rajin bersekolah. Aku bangga sama ayah, dia tak pernah mengeluh meskipun antar
jemputnya aku kemana pun. Dan aku bahagia mempunyai ayah sepertinya.
Keesokannya, seperti biasa ayah
mengantar aku kesekolah. Tiba disekolah aku gelisah, sampai bel berbunyi, tak
kunjung bertemu Adi. Ketika bel berbunyi, ia tak terlihat batang hidungnya
juga. Jam istirahat, aku bersama temanku pergi ke kantin sekolah. Kulihat
sekeliling isi kantin, ternyata dia juga tidak ada. Perasaanku mulai khawatir
padanya. “Kak, Adi sakit apa?” tanya salah satu teman sekelasnya padaku. Aku
terdiam, tak menjawab sepatah dua kata dan hanya menggelengkan kepala, pertanda
tidak tahu.
Dan akhirnya sepulang sekolah aku
mencoba menghubunginya dengan mengirimkan pesan di facebook. “Hai, kamu kenapa
tidak sekolah hari ini?”. Tiba – tiba ada pesan masuk, “Hari ini aku sakit,
tadi periksa ke dokter”, balasnya. “Ya sudah, cepet sembuh ya biar bisa sekolah
lagi,” balasnya lagi. Dan ternyata dia telah off.
Rasa khawatirku terbayar setelah
mengetahui kabarnya dia yang sedang sakit. Aku berdoa agar dia segera masuk dan
kembali bersekolah. Lalu ku lanjutkan lagi tugas sekolahku yang belum sempat
terselesaikan tadi. Dua jam kemudian, ada sms darinya. “Kamu jangan khawatir,
aku hanya demam saja. Besok aku masuk sekolah, sampai jumpa disekolah ya”,
darinya. Membaca pesan smsnya aku senang sekali dan rasanya ingin segera pagi
untuk bertemu dengannya.
Pagi itu, aku tak menyangka dia yang
ku tunggu – tunggu ternyata dihukum karena datang terlambat. Dia jemur oleh
guru piket sampai jam kedua baru dia masuk kelas. Aku heran kenapa dia
terlambat, padahal sebelumnya tak pernah terlambat.
Saat istirahat, aku bersama temanku
membeli jus dan beberapa makanan. “Hai, boleh aku gabung? Sambil tersenyum
melihatku. “Boleh”, jawabku singkat. “Rin, aku balik duluan ya”, ucap salah
satu teman kelasku. “Eh.. iya sudah”, sambil melambaikan tangan. Aku terasa
gugup sekali duduk berdua begini. “Kok diam aja sih?”, tanyanya. “Emang mau
bernyanyi?”, sambil meminum jus. “Monggo nyanyi, tak dengerin sekarang”,
ejeknya. Tetttt..tettttt
“Eh sudah bel tuh,
aku masuk dulu”, sambil berdiri. Dengan spontan dia memegang tanganku. “Bareng
dong”, sambil bergandengan tangan menuju kelas masing – masing. Kebetulan
kelasnya dibelakang kelasku.
Waktu telah siang, langkah kaki ku
menuju pintu gerbang sekolah, ternyata aku telah dijemput oleh ayah seperti biasanya.
Tapi aku belum sempat bertemu dengan Adi sepulang sekolah. Drett..drettt Hp
bergetar, ku lihat ada pesan pacarku, Adi. “Sudah pulang duluan ya”, pesan Adi.
Jari jemariku mengetik untuk menjawab pesan Adi, “Iya aku telah dijemput”,
balasku lagi. Lalu dibalasnya lagi, “Sampai ketemu besok disekolah”. Aku senang
membaca smsnya hingga sampai rumah, pipiku serasa memerah. Tak sabar untuk
bertemu besok dengannya lagi.
Seperti biasa disekolah, saat
istirahat kami bertemu untuk makan bersama dengannya sekaligus dengan temanku
juga. Sampai pulang pun kami juga sering untuk bertemu sambil menunggu jemputan
masing – masing. Semakin lama hubungan kami semakin dekat. Aku bahagia
bersamanya dengan cinta, dan rasa sayang yang diberikan olehnya.
***
Tak
terasa hubungan aku bersama Adi telah tahun. Sore itu aku bersepeda padahal tak
janjian untuk ketemu. Ttttiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnn....... bunyi klason motornya
dari arah belakang. Dengan spontan aku menolehnya, “Ah apaan sih, berisik
tauuuuk”, ucapku dengan jutek. “Kaget pasti ya, maaf deh. Kita ke taman yuk
sebentar saja,” sambil mendahului didepan sepedaku. “Hemm”, mengehela nafas
sambil ku lanjutkan mengayuh sepeda.
Sampai
ditaman, aku parkir sepeda, dan menghampirinya yang telah dulu sampai ditaman.
“Ada apa sih ajak aku kesini?”, cetusku terengah – engah habis bersepeda.
“Minum dulu nih”, sambil berikan sebotol air kemasan. Lalu ku minum airnya
sampai habis. “Ada apa kok ngajak kesini sih?” tanya ku kembali. “Aku mau
ngasik ini”, sambil menjulurkan boneka teddy bear pink bertulis I Love You.
“Hari adalah hari jadian kita yang pertama, itu buat kamu”. Ujarnya kembali.
Aku hanya tersenyum dia memberikan boneka padaku. Aku tak menyangka saja dia
romantis, pikirku saat itu. “Aku pulang duluan ya, sudah hampir adzan magrib
nih”, melihat jam yang melingkar dilengan kiri. “Baiklah, aku antar sekarang”,
jawabnya dengan nada sedikit kecewa. Langkah kami menuju parkiran dia sempat
menggandeng tangan kananku. Tapi ku lepaskan, karena malu.
Diperjalanan pulang ke rumah, dia
mengikuti dari belakang. Dengan peluh bercucuran mulai membasahi pakaian, aku
mempercepat mengayuh sepeda. Aku takut sekali pulang terlalu sore. Waktu terus
ku kejar dengan mengayuh sepeda yang semakin cepat. Akhirnya aku tiba digang
rumah dan kami berpisah untuk pulang kerumah masing – masing.
Semenjak sore itu, aku bersama Adi
mulai jarang bertemu. Mengingat dia yang libur karena aku lagi disibukkan
berbagai ujian disekolah. Hingga awalnya aku pikir dia akan mengerti keadaanku.
Tapi tidak, dilain posisi dia mengajak aku untuk keluar. Tentu saja aku
menolaknya. Padahal aku harus belajar kelompok dan les diberbagai tempat untuk
menunjang nilaiku dalam ujian terakhir masa putih biru. Ternyata dia mulai
mengerti dan mendukung kegiatanku.
Waktu
yang ditunggu – tungu telah tiba, aku ujian nasional, selama empat hari. Jadi
waktu untuk berkomunikasi tak sempat ku lontarkan seuntai kata – kata. Aku
hanya fokus belajar selama empat hari. Syukur saja dia mengerti dan tidak marah
padaku. Sehabis ujian nasional selesai, aku segera mengabarinya. Sekedar basa –
basi menyambung komunikasi yang selama empat hari tak ada pepatah yang romantis
untukku.
Seperti
biasa dia masuk sekolah, dan aku dirumah saja karena habis ujian tidak ada lagi
kegitan mengajar. Komunikasi ku masih lancar jaya seperti biasa melalui sms dan
facebook kala itu. Selain itu ia juga disibukkan berbagai ektrakulikuler band,
ia sebagai drummer. Mungkin bisa dikatakan handal sih, dia juga makin keren
kalo lagi ngeband. Setiap pulang sekolah dia latihan bersama grup band
disekolah untuk tampil diacara perpisahan kelas 9. Aku tak bisa membayangkan,
setelah lulus aku tak bisa lagi melihat keadaan dirinya langsung terlihat mataku.
Pagi
itu sekolah mulai ramai mengingat acara perpisahan kelas 9. Aku tidak tahu, aku
semakin sedih dengan adanya perpisahan itu. Suara panggung yang semakin keras
pukulan drum olehnya, aku menikmati ketika dia tampil. Aku hanya duduk terpaku
melihatnya hingga aku berfikiran, “Bagaimana dengan dia ketika aku telah lulus
nanti ?”, kata hatiku. Setelah tampil dia menemui ku, mengajakku duduk
bersamanya. Kami pum berdua duduk bersama dibelakang panggung. Raut wajahku
mengkerut berfikiran aneh tentangnya. “Kamu kenapa?” tanyanya. “Tidak apa – apa
kok”, dengan nada datar. “Kamu tenang aja, acara ini hanya pisah kenang dengan
kelas 9. Jadi bukan perpisahan hubungan kita kok”, dengan tegasnya menjawab.
“Apa kamu yakin?”, ucapku. “Aku yakin kok, aku tak akan seperti dahulu lagi”,
sambil menatap mataku. “Aku pegang ucapanmu”, kataku. “Jangan sedih, sebentar
lagi aku akan tampil lagi”, sambil tersenyum padaku. “Yaudah sana siap – siap”,
ucapku kembali. Dia pun langsung naik ke atas pentas dan memainkan drum lagi.
Ketika
itu ucapannya langsung terekam oleh memori otakku. Aku berharap dia tak seperti
dulu lagi, dan komitmen dengan ucapannya padaku. Positif dan saling percaya aku
berikan full untuknya.
Sehabis
acara itu aku pun mulai sibuk mempersiapkan berbagai persyaratan masuk Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) dikota ku. Akhirnya aku memutuskan bersekolah di salah
satu SMK yang merupakan sekolah favorit dikota ku. Aku keterima di jurusan
Perbankan. Disamping kesibukanku, dia masih tetap menghubungi ku meskipun ia
sedang sibuk ujian kenaikan kelas. Aku senang dia masih perhatian kala itu. hubungan
kami pun masih berjalan seperti dahulu meski kita berbeda sekolah.
Ketika
awal ajaran baru, aku resmi menjadi siswa SMK dan dia kelas 9. Meskipun sekolah
berbeda, obrolan kami masih asik seperti dulu. Kami juga sering menghabiskan
banyak waktu saat weekend ataupun waktu kosong. Terkadang dia juga menjemputku
pulang sekolah. Dia juga sering menemaniku ke perpustakaan, makan bareng habis
pulang sekolah. Aku bahagia sekali dengannya dia membuktikan ucapannya saat
itu. Aku dengannya juga semakin sayang, dia pun juga.
Waktu
anniversary yang ke 2, aku diajak pergi ke taman dengannya. Ternyata juga telah
disiapkan boneka yang besar teddy bear. Aku gembira, dia masih romantis saja
kepadaku. Pikiran hanya tertuju kepadanya terus dan rasa ini semakin yakin untuknya.
Bulan depannya ulang tahunku, dia juga memberiku kado sebagai bentuk perhatian
kepadaku katanya. Aku tak pernah meminta barang ke Adi. Aku hanya memintanya
untuk setia dengan diriku saja. Dia masih menyanggupi permintaanku waktu itu.
***
Lamban
laun perjalanan kisah ini dengannya semakin renggang. Entah mungkin karena dia
telah duduk dibangku Sekolah Menengah Atas, banyak tugas yang dia pikul untuk
menunjang nilainya. Aku masih mengerti keadaannya. Selalu aku biarkan untuk dia
fokus sama sekolahnya dan akupun juga begitu. Seiringnya berjalan dengan waktu,
aku sempat bertengkar hebat, entah karena hal sepele, yaitu aku tidak
menghubunginya. Padahal, aku yang menunggu kabarnya. Sikap egois yang kita
miliki masing – masing jadi memperpanas masalah. Hingga aku dan dirinya jarang
berkomunikasi dan bertemu juga jarang saat itu.
Apalagi
saat aku sedang praktek lapangan kerja, dia juga marah. Waktu untuknya
berkurang, ujarnya. Yang bener saja, aku praktek lapangan kerja ini untuk
menunjang nilai raportku. Aku semakin marahan dengannya. Tapi dia juga tak
kunjung mengerti keadaan ini. Aku heran saja, kenapa dia berubah seperti itu.
Aku tetap berfikir positif terhadapnya, hingga aku yang mengalah.
Setelah
kami baikan, dia mulai menjemputku lagi ditempat praktek kerja lapangan, dibank
pemerintah aku disana selama 3 bulan. Dari pertengkaran yang kami alami, kita
membuat komitmen untuk saling mengalah dan jujur. Itu komitmen yang Adi buat
sendiri, aku hanya menyetujuinya saja.
***
Tiga bulan telah dilalui, tak terasa
aku telah berada diujung jari dari masa putih abu – abu. Semakin disibukkan
berbagai kegiatan belajar, dari tambahan pelajara, belajar kelompok ditambah
dengan bimbel diluar itu semua sangat menyita waktu ku dengannya. Dan dia marah
lagi kepadalu, karena waktu untuknya tidak ada. Sudah ku jelaskan dengan
panjang lebar kepadanya, masih tidak mau tau dengan alasanku, intinya dia
marah. Tapi aku hiraukan saja dia marah, aku hanya peduli dengan kegiatan
belajar yang untuk mempersiapkan ujian nasional yang menungguku digerbang mata.
Akhir pekan, tanpa ada rencana tiba
– tiba dia menelfonku, “Ke cafe ya, aku tunggu”, ucapnya dan langsung mematikan
telfonnya. Beberapa menit kemudian, aku tiba disana dengan motor dan parkir
tepat di sebelah motornya. Langsung saja aku menaiki beberapa anak tangga yang
agar bisa menuju ke lantai 2, Adi ada disana biasanya, pikirku. Betul apa yang
aku rasakan, dia duduk dipinggir sudut cafe sambil menikmati minuman yang
dipesannya. “ Hai..”, sapaku sambil duduk disampingnya. “Lama banget sih”,
cetusnya. “Iya tadi baru pulang dari bimbel”, jawabku. Tiba – tiba seorang
pelayan cafe menghampiriku dan memberikan bingkisan tas. “Ini mbak terima”,
kata pelayan cafe. “Ini dari siapa ya?”, tanyaku pada pelayan sambil melihat
isi tas itu. Ku lihat isinya ternyata jilbab syar’i, “ehh mbak tunggu”,
teriakku kepada pelayan itu. pelayan itu menghiraukan dan turun ke lantai satu.
“Itu dipake ya”, sahut Adi. “Ini dari kamu?”, tanyaku pada dirinya. Ia hanya
tersenyum saat aku melihat model jilbabnya. “Kamu suka?”, tanya dia lagi.
“Suka, bagus lagi”, ucapku sambil meletakan kembali jilbab ke dalam bingkisan
tas. “Aku mengajakmu karena, besok adalah hari anniversary ke-3 kita, karena
aku besok kegiatan disekolah”, ucapnya. “Jadi, sudah tidak marah kan sama aku.
Ya aku tahu besok adalah hari kita.
Terimah kasih ya masih mau mengerti kesibukanku juga”, lontarku padanya. Ia
tersenyum sangat bahagia melihat aku. Aku pun terbawa suasana jadi galfok
dibuatnya. Puas bersenda gurau, kamipun balik kerumah masing – masing.
Semenjak merayakan anniversary yang
ke – 3 kami jarang dan hampir tidak pernah ketemu berbulan – bulan lamanya.
Rasa khawatir mulai meningkat, dulu yang 30%, sekarang mencapai 99%. Itu hanya
perumpamaan jika diukur dengan alat pendeteksi khawatir. Semakin bingung apa
yang harus aku lakukan, sms dan chat facebook juga tak pernah dibales lagi
dengannya. Aku juga tidak tahu bagaimana keadaannya, terkadang ada rasa ingin
mengunjungi rumahnya. Tapi belum pernah sekali diajak kerumahnya. Hanya bisa
sabar dan menunggu kabar darinya sepanjang waktu. Aku tak mengerti apa yang
terjadi saat itu, yang pikirkan, dia lupa terhadap diriku.
Dilain hal, aku juga sibuk dengan
acara ujian sekolah yang sangat padar. Tapi disela – sela itu, aku stalking
untuk mencari nama facebook tentangnya. Ternyata dugaanku, memang benar – benar
ada facebook barunya. Aku lihat semua berandanya, dia berselingkuh dengan adik
kelasnya. Gimana histerisnya aku saat itu, gagal fokus mengingatnya. Ketika
diruang ujian, aku mencoba melupakannya sejenak, agar bisa mengerjakan dengan
benar.
Selesai ujian, aku buka ponsel,
menerima pesan singkat darinya, “Aku mau kita putus. Aku ingin sendiri detik
ini. Tolong mengerti aku”, sms Adi. Berkali – kali membaca pesannya, aku tak
bisa menahan air mata ini. Hanya menangis yang bisa aku lakukan untuk menerima
kenyataan yang ia berikan padaku. Aku tidak menyangka, kepercayaan yang aku
bangun dengan dirinya, digusur dengan perselingkuhan terhadapku. Setelah sekian
lama aku setia bersamanya. Ini balasan yang aku dapatkan selama tiga tahun
delapan bulan. Dia tak pernah berubah, selalu berdusta dengan ucapannya
sendiri.
Akhirnya, keputusan yang sangat
tidak sinkron harus aku pilih, yaitu memutuskan untuk mengubur masa – masa
tentangnya. Dimulai dari foto, barang – barang yang ia berikan semuanya. Aku
musnahkan dan aku bakar hingga tak ada yang tersisa sedikitpun. Mantan adalah
masa lalu, bukan pahlawan yang harus dikenang, melainkan dibuang pada tempat yang
semestinya.
No comments:
Post a Comment